Senin, 22 Oktober 2018

PERTANYAAN PERTANYAAN TENTANG HISTORIA PENDIDIKAN INDONESIA

Beberapa Pertanyaan yang akan kami bahas pada makalah ini, ialah :

1.  APA YANG DIMAKSUD DENGAN PENJAJAHAN DI BIDANG EKONOMI DAN SOSIAL? BERIKAN CONTOH ORGANISASI DI BIDANG EKONOMI DAN SOSIAL YANG ADA PADA MASA PERGERAKAN NASIONAL.

Jawab :

Penjajah adalah kelompok/bangsa/Negara yang memperlakukan suatu kelompok bangsa atau negara seperti memeras harta, sumber daya alam, sumber daya manusia, membuat pengertian HAM hilang, dan tentu saja melakukan tindakan-tindakan kekerasan pada kelompok/bangsa/negara yang dijajah. Jadi dapat disimpulan bahwa penjajahan di bidang Ekonomi dan Sosial adalah suatu bentuk perlakuan yang bersifat memeras dan menekan bahkan merampas segala sesuatu yang berhubungan denga masalah Ekonomi dan Sosial.

Beberapa organisasi Ekonomi dan Sosial yang terbentuk pada Masa/Era Pergerakan Nasional adalah :
Organisasi Ekonomi

1. SAREKAT ISLAM
Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa.


Organisasi Sosial

Dalam hal ini, organisasi sosial bergerak dibidang politik dan juga Pendidikan. Adapun organisasinya ialah :

1. Organisasi Pemuda dan Wanita
2. Gabungan Politik Indonesia (Gapi)
3. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
4. Partai Indonesia Raya (Parindra)
5. Partai Indonesia (Partindo)
6. Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia  (PPPKI)
7. Partai Komunis Indonesia (PKI)
8. Perhimpunan Indonesia
9. Indische Partij (IP)
10. Budi Utomo (BU)


2.  KENAPA JEPANG MASIH TETAP MEMPERLAKUKAN KEKERASA KEPADA INDONESIA, SETELAH DIA MEMBERIKAN PENDIDIKAN KEPADA MASYARAKAT INDONESIA?

Jawab :

Menurut hasil diskusi kelompok kami. Alasan yang paling logis kenapa pada saat itu Jepang tetap memperlakukan kekerasan kepada masyarakat Indonesia, ialah karena posisi Jepang pada saat itu adalah seorang PENJAJAH, yang kita ketahui selama ini bahwa Penjajahan adalah sifat yang sama saja dengan tidak memperlakukan HAM. Dari sejarah yang kita pelajari dan kita baca pun sudah tertera kalimat-kalimat seperti PERLAWANAN, PEMBERONTAKAN, atau bahkan PERTEMPURAN, yang dilakukan MASYARAKAT INDONESIA terhadap PENJAJAH. Yang dalam hal ini bukan hanya berlaku pada saat penjajahan Jepang, akan tetapi sudah terlaksana pada saat penjajahan sebelum Jepang.
Jika saja pada saat itu Jepang memperlakukan masyarakat Indonesia yang notabennya adalah Jajahannya sendiri dengan amat sangat baik, terlebih setelah diberikannya pendidikan bagi setiap lapisan masyarakat di Indonesia. Sudah dapat dipastikan pada saat itu juga Masyarakat Indonesia dan para pahlawan lainnya akan dengan mudah untuk menjatuhkan Penjajahan Jepang. Disini kita harus kembali melihat apa tujuan utama Jepang memberikan pendidikan terhadap masyarakat Indonesia? Adalah untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka melatih dan mendidik kita agar kita berpartisipasi dan bergabung atau bahkan membantu mereka dalam hal Industri.
Jadi kenapa mereka tetap memperlakukan kekerasan tersebut? Karna mereka tidak mau masyarakat dan tokoh pahlawan kita dengan mudahnya menjatuhkan mereka. Jika dalam keadaan tersiksa atau mendapatkan kekerasan saja masyarakat Indonesia masih bisa melakukan permberontakan, bagaimana lagi jika pada saat itu kita tidak diperlakukan dengan kekerasan? Sudah pasti Jepang akan kalah sebelum waktunya.
Mereka menjajah Indonesia denga tujuan untuk dapat menguasai baik secara wilayah maupun juga masyarakat Indonesia. Memberikan pendidikan merupakan salah satu bekal pelatihan juga sebagai bentuk propoganda mereka agar kita dapat membantu mereka mewujudkan impiannya. Akan tetapi, penjajah tetaplah penjajah, yang memperlakukan masyarakat kita dengan kekerasan agar kita tidak dapat melawan kekuasaan mereka.

3. APA TUJUAN JEPANG MENJAJAH INDONESIA

Jawab :

1. Karena Jepang mengelola, memanfaatkan dan menguasai segala kekayaan alam yang ada di Infdionesia seperti hasil minyak bumi, hasil rempah rempah dan lain lain yang hanya diperuntukkan untuk kepentingan industri dan perekonomian negara Jepang.
2. Pihak Jepang mengetahui bahwa jumlah penduduk di Indonesia sangat majemuk maka dimanfaatkan sebagai wilayah untuk jalur pemasaran barang dan jasa serta perdagangan aktif hasil industri negara Jepang.
3. Karena Jepang mengetahui saat itu penduduk Indonesia masih sedikit yang berpendidikan tinggi dan kritis tentang ketidak adilan yang dilakukan bangsa Jepang. Karena warga Indonesia masih banyak yang hidup berada pada garis kemiskinan dan kebodohan maka pihak jepang sangat mudah mempengaruhi mereka untuk memperkerjakan mereka sebagai buruh dengan upah yang sangat rendah.
4. Sebagai tenaga persiapan perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik
  Sebelum meletusnya Perang Asia Timur Raya, Jepang memetakan wilayah Asia Tenggara menjadi 2 bagian, yaitu :
1.  Wilayah A, yaitu beberapa koloni Inggris, Belanda dan Amerika Serikat yang meliputi wilayah ; Semenanjung Melayu, Kalimantan Utrara, Philipina dan Indonesia
2.  Wilayah B, yaitu koloni Perancis yang meliputi Vietnam, Laos dan kamboja
Jepang menguasai kawasan Asia Tenggara, khususnya wilayah A dengan tujuan ; menjadikan kawasan Aasia Tenggara sebagai sumber bahan mentah bagi industri perang dan pertahanannya. Jepang juga berusaha memotong garis perbekalan musuh yang berada di wilayah ini.
        Jepang memperoleh kemenangan mudah untuk menduduki Indonesia yang dikuasai Belanda pada bulan Januari 1942. Dimulai dari wilayah Tarakan (Kalimantan Timur) sebagai penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia, berturut-turut kemudian wilayah Balikpapan, Ambon,Kendari, Pontianak dapat dikuasai pada bulan yang sama. Pada bulan Pebruari 1942 Jepang berhasil menguasai Palembang.
        Untuk menguasai Indonesia, Jepang menggunakan 2 jalur, yaitu :
1    Lewat Philipina ; Tarakan, Balikpapan, Bali, Rembang Indramayu
2.  Lewat Semenanjung Melayu ; Palembang, Pontianak, Tanjung Priok
        Pada tanggal 5 Maret 1942 tentara Jepang berhasil menguasai Batavia. Karena semakin terdesak serta tidak adanya bantuan dari Amerika Serikat akhirnya Belanda terpaksa harus menyerah tanpa syarat kepada Jepang melalui Perjanjian Kalijati (Subang Jawa barat) pada tanggal 8 Maret 1942. Perjanjian ini ditandatangani oaleh Jenderal Teerporten selaku wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Indonesia (Tjarda Van Stackenborg Stackhouwer) dengan Jenderal Immamura sebagai Pimpinan bala tentara Jepang di Indonesia
        Setelah berhasil menguasai Indonesia Indonesia, pemerintah bala tentara Jepang membagi Indonesia menjadi 3 bagian, yaitu :
1.  Wilayah I,       : terdiri atas Jawa dan Madura serta diperintah oleh Tentara Keenambelas Rikugun (Angkatan Darat) yang berpusat di Jakarta
2.  Wilayah II,     : terdiri atas ; Sumatera dan diperintah oleh Tentara Keduapuluhlima Rikugun dengan markas di Bukit Tinggi (Sumatera Barat)
3.  Wilayah III, : terdiri atas ; Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara, diperintah oleh Armada Selatan kedua Kaigun (Angkatan Laut) yang berpusat di Maka

4.  APA DAMPAK YANG TERJADI DARI PERANG RUSIA DENGAN JEPANG

Jawab :

Latar Belakang terjadinya Perang Rusia Jepang
Pada awal abad ke-20, Rusia sudah menjadi kekuatan dunia yang diperhitungkan dengan wilayah yang luas di Eropa Timur dan Asia Tengah. Di lain pihak, Jepang dipandang sebagai kekuatan Asia yang tengah naik daun berkat Restorasi Meiji. Pada tahun 1904, Kekaisaran Rusia, yang diperintah oleh Tsar Nicholas II yang otokratik dipandang sebagai salah satu kekuatan teritorial terluas di dunia.

Di tahun tersebut pusat pengiriman Siberia dari Vladivostok terpaksa ditutup selama berbulan-bulan akibat musim dingin. Oleh sebab itu, kekaisaran membutuhkan pelabuhan air hangat di Samudera Pasifik, baik untuk tujuan perdagangan maupun pangkalan untuk angkatan lautnya yang sedang tumbuh. Untuk mengatasi masalah itu, Tsar Nicholas mengarahkan perhatiannya pada semenanjung Korea dan Liaodong China. Kekaisaran Rusia telah menyewa pelabuhan di Semenanjung Liaodong dari Cina yang dikenal dengan nama Port Arthur, tetapi mereka ingin memiliki basis operasi yang kuat di bawah kendalinya.
Sementara itu, Jepang telah menaruh perhatian khusus terhadap pengaruh Rusia di wilayah Asia Timur sejak Perang Sino-Jepang Pertama tahun 1895. Pada perang tersebut, Rusia memberikan dukungan militer kepada Kekaisaran Qing di Cina selama konflik itu, yang mengakibatkan dua kekuatan Asia saling beradu satu sama lain.
Dengan sejarah agresi militer Rusia, pada awalnya Jepang ingin mencari kesepakatan dengan menawarkan kendali atas Manchuria, Cina. Sebagai gantinya Jepang akan tetap mempertahankan pengaruhnya atas Korea.

Akan tetapi, Rusia menolak tawaran Jepang dan menuntut Korea utara dari paralel ke-39 difungsikan sebagai zona netral. Setelah negosiasi gagal, Jepang memilih jalan perang dengan melakukan serangan mendadak terhadap angkatan laut Rusia di Port Arthur pada 8 Februari 1904.
Dimulainya Perang Rusia-Jepang


Serangan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang terhadap Armada Timur Jauh Rusia di Port Arthur dirancang untuk mengintimidasi pasukan Rusia.
Di bawah kepemimpinan Laksamana Togo Heihachiro, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang mengirim kapal torpedo untuk menyerang kapal angkatan laut Rusia. Serangan itu berhasil merusak tiga kapal terbesar Rusia: Tsesarevich, Retvizan, dan Pallada.

Pertempuran berikutnya dari Port Arthur dimulai pada hari berikutnya.
Meskipun sisa Armada Timur Jauh Rusia sebagian besar dilindungi di dalam pelabuhan di Port Arthur, serangan sebelumnya berhasil menghalangi Rusia untuk bertempur di laut terbuka. Jepang juga mencoba melakukan blokade terhadap pelabuhan tetapi gagal. Rusia tidak tinggal diam, mereka mencoba membalas serangan itu menggunakan ranjau. Serangan balasan itu berhasil merusak dua kapal perang Jepang. Kendati demikian Jepang masih menunjukkan dominasi di Port Arthur dan terus membombardir pelabuhan dengan senjata-senjata berat.
Pertempuran Liaoyang
Setelah upaya untuk menyerang benteng Rusia di darat gagal dan malah mengakibatkan korban yang signifikan bagi Jepang, kegigihan kekuatan Asia itu akhirnya membuahkan hasil.
Pada akhir Agustus, pasukan dari Rusia utara yang dikirim untuk membantu armada di Port Arthur dipukul kembali oleh Jepang pada Pertempuran Liaoyang. Serangan Jepang itu dilakukan dari posisi baru yang diperoleh di daratan sekitar pelabuhan. Pada akhir tahun 1904, angkatan laut Jepang telah menenggelamkan setiap kapal di armada Pasifik Rusia dan telah menguasai garnisunnya di sebuah bukit yang menghadap ke pelabuhan.
Pada awal Januari 1905, Mayor Jenderal Rusia Anatoly Stessel, komandan garnisun Port Arthur, memutuskan untuk menyerah karena menganggap pelabuhan tidak lagi layak dipertahankan. Keputusan itu mengejutkan pemimpin kedua belah pihak. Keputusan menyerah Stessel, membuat Jepang mencapai kemenangan yang signifikan dalam perang. Sementara itu, Stessel dihukum karena pengkhianatan dan dijatuhi hukuman mati atas keputusannya, meskipun akhirnya dia diampuni.
Angkatan Laut Rusia juga mengalami kerugian besar selama Pertempuran Laut Kuning, memaksa para pemimpin kekaisaran untuk memobilisasi Armada Baltik mereka ke wilayah tersebut sebagai bala bantuan.
Perang di Manchuria dan Korea
Di saat Rusia terganggu dan terdemoralisasi, pasukan darat Jepang mulai mengendalikan semenanjung Korea setelah mendarat di Incheon Korea Selatan sekarang. Dalam waktu dua bulan, mereka telah mengambil alih Seoul dan seluruh semenanjung. Pada akhir April 1904, pasukan darat Jepang mulai merencanakan serangan terhadap Manchuria yang dikendalikan Rusia di timur laut Cina. Selama pertempuran darat perang pertama di Sungai Yalu, Jepang melancarkan serangan yang sukses melawan Detasemen Timur Rusia dan memaksa mereka mundur kembali ke Port Arthur pada Mei 1904.
Setelah melalui pertempuran yang terputus-putus selama musim dingin Manchuria, pertempuran darat penting berikutnya dalam konflik dimulai pada 20 Februari 1905, ketika pasukan Jepang menyerang Rusia di Mukden. Hari-hari pertempuran yang keras pun terjadi. Pertempuran besar itu melibatkan 330.000 orang pasukan Rusia melawan 270.000 orang pasukan Jepang. Ini merupakan salah satu pertempuran darat terbesar sepanjang sejarah.
Pada Pertempuran Mukden, Jepang berhasil mendesak Rusia dan akhirnya memaksa mereka mundur penuh. Pada 10 Maret, setelah tiga minggu pertempuran, Rusia kehilangan pasukan dalam jumlah yang signifikan dan didorong kembali ke utara Mukden. Kerugian dalam pertempuran ini sangat besar, sekitar 89.000 orang Rusia dan 71.000 pasukan Jepang menjadi korban tewas.


Pertempuran Menentukan di Selat Tsushima
Walaupun Jepang telah mencapai kemenangan penting selama Pertempuran Mukden, di sisi lain mereka juga menderita korban yang signifikan. Bala bantuan Armada Baltik Rusia akhirnya tiba pada Mei 1905, setelah berlayar hampir 20.000 mil laut — sebuah tugas yang luar biasa, terutama pada awal 1900-an — mereka masih menghadapi tantangan yang menakutkan karena harus menavigasi Laut Jepang untuk sampai ke Vladivostok, dengan Port Arthur tidak lagi terbuka untuk mereka.
Untuk menghindari pengintaian Jepang, mereka memilih untuk berlayar di malam hari. Namun, bala bantuan Rusia tetap dapat ditemukan oleh Jepang, setelah sebuah kapal rumah sakit menyalakan lampu mereka di kegelapan. Sekali lagi di bawah komando Laksamana Togo Heihachiro, angkatan laut Jepang berusaha memblokir jalan Rusia ke Vladivostok dan mengakibatkan meletusnya  pertempuran di Selat Tsushima pada 27 Mei 1905.
Pada hari berikutnya, Rusia telah kehilangan delapan kapal perang dan lebih dari 5.000 orang. Hanya tiga kapal yang akhirnya sampai ke tujuan mereka di Vladivostok. Kemenangan yang menentukan ini memaksa Rusia untuk merundingkan kesepakatan damai.





Perjanjian Portsmouth
Pada akhirnya, perang brutal antara Jepang dan Rusia harus memasuki babak akhir. Sekitar 150.000 pasukan menjadi korban jiwa di kedua belah pihak dan sekitar 20.000 warga sipil China juga terbunuh. Banyak dari kematian penduduk sipil ini disebabkan oleh taktik keras orang-orang Rusia di Manchuria. Jurnalis yang meliput perang melaporkan bahwa Rusia menjarah beberapa desa dan memperkosa serta membunuh banyak wanita yang tinggal di sana.
Pertempuran berakhir dengan Perjanjian Portsmouth yang dimediasi oleh Presiden AS Theodore Roosevelt di Portsmouth, New Hampshire, pada (9 Agustus – 5 September 1905. Selama negosiasi berlangsung Rusia diwakili oleh Sergei Witte dan Jepang diwakili oleh Baron Komura.





Meskipun Jepang telah memenangkan perang secara meyakinkan, kemenangan itu membutuhkan biaya besar, sehingga kas negara hampir kosong. Akibatnya, Jepang tidak memiliki kekuatan negosiasi yang bisa diharapkan.
Menurut ketentuan perjanjian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak pada 5 September 1905, Rusia menyerahkan Port Arthur kepada Jepang, sementara mempertahankan bagian utara Pulau Sakhalin, yang terletak di lepas pantai Pasifik. Rusia juga setuju untuk meninggalkan Manchuria dan mengakui kontrol Jepang atas semenanjung Korea.
Di sisi finansial Tsar Nicholas menolak membayar ganti rugi ke Jepang. Penolakan Tsar didukung oleh Roosevelt. Akibatnya, Jepang menuduh Amerika telah menipu mereka dan demonstrasi anti-Amerika di Tokyo pun muncul.
Serangkaian kekalahan memalukan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang membuat Kekaisaran Rusia kehilangan harga diri serta menambah kebencian rakyat Rusia terhadap pemerintahan Tsar. Kebencian ini nantinya akan mengobarkan api politik yang pada akhirnya menghasilkan penggulingan pemerintah pada Revolusi Bolshevik 1917. Meskipun ketegangan di kawasan itu masih jauh dari selesai, Perang Rusia-Jepang telah menggeser keseimbangan kekuatan global, menandai pertama kalinya dalam sejarah modern bahwa bangsa Asia telah mengalahkan bangsa Eropa dalam pertempuran militer. Perang ini juga akan menandai dimulainya peperangan yang melibatkan kekuatan dunia di kawasan Pasifik.
Perang yang dimenangkan oleh Jepang ini membuat bangsa-bangsa di Asia sadar bahwa sebenarnya mereka tidak kalah kehebatannya dari bangsa-bangsa Eropa atau barat dan juga ‘mematahkan mitos’ bahwa orang Asia lebih inferior dari orang Eropa dan juga bahwasannya orang kulit putih Eropa ‘tidak bisa dikalahkan’.
5. APAKAH DENGAN MENJAJAH INDONESIA TUJUAN JEPANG DAPAT TERWUJUD?
Jawab :
Bukan tanpa alasan Jepang datang dan menjajah Indonesia. Kedatangan mereka ke Indonesia ini tentu sudah ada dalam rencana mereka. Indonesia di nilai lebih menguntungkan untuk di jajah dari pada negara Asia lainnya. Mulai dari wilayah, hasil bumi, masyarakat bahkan dari segi pertahanan dan aspek lainnya. Akan tetapi, atas berkat kuasa Tuhan Yang Maha Esa dan juga berkat tekad masyarakat serta para pahlawan kita dimasa lampau. Sebelum Jepang benar-benar menguasai Indonesia, masyarakat Indonesia sudah lebih dahulu melakukan perlawanan dan berhasil menjatuhkan penjajahan Jepang, bahkan mampu memerdekakan Indonesia.









Historia Pendidikan Indonesia Kaum Pergerakan Nasional

Sejarah/historis adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya (Pidarta, 2007: 109).

Sejarah (bahasa Yunani: ἱστορία, historia, artinya "mengusut, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian")[2][3] adalah kajian tentang masa lampau, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia.

Historia Pendidikan Kaum Pergerakan Nasional adalah segala sesuatu yang mengusut pengetahuan atau mempelajari pengetahuan yang terjadi pada masa lampau, yang berkaitan dengan segala kejadian atau kegiatan dan diperoleh melalui penelitian, yang terjadi pada masa Pergerakan Nasional.









1. Sejarah Pendidikan pada Zaman Hindu-Budha

Masuknya kebudayaan Hindu di beberapa daerah di pulau Jawa menjadi titik awal zaman sejarah tulis menulis di Indonesia. Tulisan dengan huruf Pallawa yang berisi sastra, agama, sejarah, etika menjadi sumber pendidikan golongan raja-raja dan bangsawan. Pendidikan mengharuskan anak-anak, pemuda dan orang dewasa mempelajari huruf Pallawa. Zaman pemerintahan Erlangga (990-1049) banyak buku-buku bahasa, sastra, hukum, filsafat diterjemahkan ke bahasa Jawa kuno (Kawi) sehingga lahirlah guru-guru profesional pada zamannya. Seorang guru profesional harus lahir dari kasta Brahmana sedang muridnya bisa terdiri dari kasta Brahmana sendiri sandar 2 kasta di bawahnya, sebab kasta sudra tidak diperkenankan menjadi murid.
56Puncak pendidikan Budha dicapai pada zaman Sriwijaya. Guru terkenal pada zaman Sriwijaya ialah Darmapala dari Nalanda. Tahun 685, I Tsing (seorang Budhis Cina) yang pulang dari India singgah di Sriwijaya menerjemahkan 100 buku agama Budha ke dalam bahasa Cina. Bermula dari hal ini, agama Budha banyak dipelajari orang-orang sehingga akhirnya Budha berkembang di pulau Jawa.


2.    Sejarah Pendidikan pada Zaman Kerajaan Islam

            Pada abad ke-13 Islam masuk ke Indonesia. Kerajaan Islam pertama di Jawa ialah Demak, di Aceh Samudra Pasai, di Sulawesi kerajaan Goa dengan Raja Goa Alaudin dan di daerah Maluku Kesultanan Ternate. Dari kerajaan-kerajaan itulah menjadi pusat penyebaran agama Islam sehingga Islam tersebar ke seluruh nusantara. Bermula dari penyebaran Islam di dalamnya inklusif pendidikan bercorak Islam tradisional dikembangkan. Sebagai pusat perkembangan Islam, para kiai mendirikan pondok pesantren. Dalam pondok pesantren itu para kiai hidup bersama santri memperdalam agama Islam.
            Penyelenggaraan pendidikan agama Islam masih bersifat perorangan. Para kiai membina umat Islam di daerahnya masing-masing dengan mendirikan pondok pesantren. Terkenallah peran Walisanga di Jawa, para syeh Minangkabau dan pada akhirnya berdiri kesultanan-kesultanan sebagai pusat pemerintahan dan pusat penyebaran Islam.
            Tujuan pendidikan Islam pada saat itu adalah mengabdi sepenuhnya kepada Allah sesuai dengan  tuntunan rasul Muhammad SAW ( Al Qur’an dan Sunah). Materi pendidikan yang diberikan para kiai adalah keimanan, ketaqwaan, dan akhlaq. Untuk memperdalam ilmu tauhid diberikan juga Arkanul Iman.
Untuk mencapai tujuan tersebut diberikan program belajar yang meliputi:
1.      membaca Al Qur’an;
2.       ibadat (berwudlu, shalat);
3.      keimanan;
4.       akhlaq.
            Cara belajar saat itu adalah dengan model sorogan dan klasikal. Model sorogan atau individual dilakukan dengan anak santri duduk bersila berhadapan dengan guru gaji untuk membaca Al Qur’an, secara bergantian satu persatu sesuai dengan kemajuannya masing-masing. Demikian pula dalam hal belajar berwudlu, salat seorang santri dibimbing langsung oleh guru. Pendidikan akhlaq diberikan secara klasikal, guru bercerita tentang tarikh nabi, Sabat nabi, sifat-sifat terpuji atau yang tercela dengan materi para tokoh pada zamannya. Lama belajar tidak ditentukan, sangat bergantung pada kemampuan, kerajinan dan kemauan anak. Karena itu belajar tidak dipungut biaya. Hal ini berlangsung sampai masuknya kebudayaan barat.







C. Pendidikan pada Masa Kolonial
Tahun  1596, di bawah pimpinan Cornelis Ed Houtman, Belanda pertama kalinya datang ke Indonesia. Misi kedatangannya adalah berdagang. Dengan menyusuri pantai Jawa, Belanda akhirnya mencapai daerah Timur (Ambon dan sekitarnya). Mereka kembali dengan membawa rempah-rempah yang cukup banyak. Sejak saat itu pedagang Belanda yang datang ke Indonesia semakin ramai. Untuk menghindari persaingan, tahun 1602 Belanda mendirikan VOC (Persatuan Dagang Hindia Timur). Dengan dalih perdagangan inilah, VOC terus memperkuat perdagangannya. Lewat politik yang dilakukannya dengan raja-raja Jawa, VOC sebagai kepanjangan tangan Belanda akhirnya menjadikan Indonesia sebagai daerah jajahan (koloni).
Untuk lebih memperkuat kedudukan, Belanda mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak Indonesia. Sekolah ini bertujuan menghasilkan pegawai-pegawai rendahan baik untuk pegawai negeri maupun pegawai swasta. Pembukaan sekolah itu didorong oleh kebutuhan praktis berkaitan dengan pekerjaan di berbagai bidang dan kejuruan. Secara umum kecenderungan penyelenggaraan pendidikan kolonial adalah sebagai berikut:
1.    Membiarkan terselenggaranya pendidikan Islam tradisional serta membantu mendirikan beberapa madrasah Islamiah di Nusantara misalnya:
Melanjutkan sistem lama dalam bentuk pengajian Al-qur’an dan Kitab Kuning.
2.    Mendirikan pondok pesantren modern misalnya di Jombang Ponpes Tebuireng, di Ponorogo Ponpes Gontor.
3.     Mendirikan sekolah agama atau madrasah misalnya madrasah adabiah di Aceh, Madrasah maktab Islamiah di Tapanuli medan.
4.    Mendirikan sekolah Zending (misionaris) yang bertujuan menyebarkan agama Kristen untuk orang-orang Belanda dan buni putra. Beberapa sekolah yang didirikan Belanda misalnya:
a.         1607 mendirikan sekolah di Ambon dengan bahasa Melayu dan Belanda.
b.        1622 mendirikan sekolah di Kepulauan Banda lengkap dengan asrama.
c.         1630 mendirikan sekolah Warga Masyarakat di Jakarta untuk tingkat sekolah dasar yang mendidik budi pekerti.
d.        16422 mendirikan sekolah latin (tingkat SMP) di Jakarta.
e.         1745 mendirikan Seminari Theologika untuk mendidik calon pendeta.
f.       1817 mendirikan sekolah dasar Eropa, untuk penduduk Eropa (semua orang Belanda, semua orang yang asalnya dari Eropa, semua orang Jepang). Sekolah dasar ini terus berkembang, pada tahun 1902 menjadi 173 buah.
g.      1860 mendirikan Gymnasium  (sekolah lanjutan) Willem III, merupakan sekolah lanjutan tingkat pertama untuk orang Eropa di Batavia.
h.      1848 atas keputusan Raja mendirikan 20 sekolah dasar Bumiputera di setiap Karesidenan Jawa.
i.        1892 sekolah dasar dibagti menjadi dua kategori, yaitu: sekolah dasar Kelas Pertama ( de schoolen der eerste klasse) untuk golongan Bumiputera (bangsawan & penduduk yang kaya) dan sekolah dasar Kelas Dua (de schoolen der tweede klasse) untuk Bumiputera umum.
j.        1856 mendirikan sekolah guru (kweeksschool) di Surakarta, 1874 di Ambon, 1875 di Probolinggo, 1875 di Banjarmasin, 1876 di Makassar, 1879 di Padang Sidempuan.k.      1851 mendirikan sekolah dokter Jawa dengan lama pendidikan 2 tahun setelah sekolah rakyat 5 tahun.Dari sekolah-sekolah yang didirikan Belanda dapat dilihat beberapa ciri khas, antara lain:
a)      dualistik diskriminatif, yaitu untuk membedakan pendidikan untuk orang Eropa dan Bumiputera.
b)      Sentralistik yaitu pemerintah kolonial Belanda memiliki hak mengatur pendidikan di daerah koloninya.
c)      Tujuannya untuk dapat menghasilkan tamatan yang menjadi warga negara Belanda kelas dua.





Pendidikan pada Masa Pergerakan

Pergerakan nasional lahir karena penderitaan rakyat. Bangsa Indonesia tertinggal di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Sebagian rakyat buta huruf, karena tidak semua orang bisa masuk sekolah. Dalam keadaan seperti itu, golongan pelajar yang mendapat kesempatan masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi saat itu tampil untuk mempelopori dan memimpin pergerakan nasional.

Latar Belakang Sosial Budaya Munculnya Pergerakan Nasional.

Seperti telah di jelaskan pada pembahasan terdahulu bahwa kebijakan pemerintah colonial belanda dalam bidang politi,ekonomi, dan pendidikan sangat merugikan bangsa Indonesia. Pemerasan yang dilakukan belanda terhadap bangsa dan kekayaan Indonesia telah menimbulkan penderitaan/kemiskinan. Stratifikasi social,sistem dualism dan konkordasi dalam bidang pendidikan telah menimbulkan rendahnya kesempatan pendidikan yang di berikan kepada bangsa Indonesia, juga menimbulkan perpecahan dan kebodohan. Pendidikan colonial belanda tidak memungkinkan bangsa Indonesia untuk menjadi cerdas,bebas,bersatu dan merdeka.
   
Bagi bangsa Indonesia berbagai kondisi yang sangat merugikan akibat kebijakan dann praktek- praktek penjajahan terssebut diatas telah menimbulkan rasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa yang di jajah sehingga muncul rasa kebangsaan/nasionalisme. Mataram dsb,juga memperkuat rasa harga diri sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka. Bahasa melayu yang merupakan bahasa kesatuan makin menyadarkan bahwa bangsa Indonesia adalah satu bangsa. Selain itu,karna mayritas bangsa Indonesia memeluk agama islam, maka timbul persepsi bahwa belanda adalah kafir.

      Sejak kebangkitan nasional (1908 ) sifat perjuangan rakyat Indonesia dilakukan melalui berbagai partai dan organisasi,baik melalui jalur politik praktis, jalur ekonomi,maupun social budaya, dan khususnya melalui jalur pendidikan.

      Usaha – usaha kaum pergerakan melalui jlur pendidikan demi kemerdekaan dan rintisan kearah pendidikan nasinal tampak jelas. Hampir setiap organisasi pergerakan nasional mencantumkan dan melaksanakan pendidikan dalm anggaran dasar dan/atau dalm program kerjanya.

      Pendidikan.I. Djumuhur dan Danasuparta ( 1976 ) mengemukakan bahwa setelah tahun 1900 usaha – usaha partikelir di bidang penddikan berlangsung dengan sangat giatnya. Dewasa ini lahirlah sekolah – sekolah partikelir ( perguruan nasional ) yang di selenggarakan para perintis kemedekaan. Sekolah – sekolah itu mula – mula bercorak dua:

1.      Sekolah – sekolah yang sesuai haluan politik, seperti yang di selenggarakan oleh: Ki Hajar Dewantara ( Taman siswa ),Dr.Douwes Dekker atau Dr. Setyabudhi ( Ksatrian Institut ), Moch. Sjafei ( INS Kayutanam ) dsb.
2.      Sekolah- sekolah yang sesuai tuntutan agama ( islam ), seperti yang di selenggarakan oleh: Muhammadiyah, nahdatul ulama, Sumatera Tawalib padang panjang, dll

Selain itu, Sebelumnya telah di selenggarakan pula endidikan oleh tokoh – tokoh Wanita seperti R.A Kartini ( di  jepara ) Rd. Dewi Sartika ( di bandung ) Dan Rohana Kudus ( di Sumatera ).






a.      R.A kartini ,Rd. Dewi Sartika , Dan Rohana Kuddus

Sekalipun tinggal daerah yang berjauhan, R.A Kartini, Rd. Dewi Sartika, Dan Rohana kuddus menghadapi Masalah Yang relative sama. Sebab itu, baik R.A kartini , Rd. Dewi Sartika,dan Rohana kudus memiliki cita- cita yang relative sama pula. Mereka masing – masing berupaya memperjuangkan emansipasi kaum wanita demi perbaikan kedudukan dan derajat kaum wanitauntuk mengejar kemajuan melalui upay pendidikan. Upaya upaya pendidikan yang di lakukan mereka adalah :



1.      R.A KARTINI ( 1879 – 1904 )
           Pada tahun 1903 ia membuka “ Sekolah Gadis” di jepara, dan setelah menikah ia membu           kanya lagi di Rembang. Karena usianya yang relative pendek usaha kartini di bidang pendidikan tidak terlalu banyak,namun ia telah banyak memberikan petunjuk jalan, melakukan rintisan pendidikan kaum wanita. Cita – citanya memberikan gambaran perjuangan dan cita – cita kaum wanita Indonesia.
                     
2.      Rd. Dewi Sartika ( 1884 – 1947 )

    Pada tahun 1904 ia mendirikan “sakola istri “ ( sekolah istri ). Murid pertamanya berjumlah 20 orang,makin lama muridmnya bertambah. Pada tahun 1909 sekolah ini melepas lulusanya yang pertama dengan mendapat ijazah.Pada tahun 1912 di 9 kabupaten seluruh pasundan telah di jumpai sekolah semacam sekolah istri dewi sartika.




3.      Rohanna Kuddus (1884-1969)
 
    Rohanna Kuddus di kenal sebagai wanita islami yang taat pada Agamanya,dan sebagimana kedua tokoh diatas dia sangat giat sekali mempelopori emansepasi wanita.Selain sebagai pendidik, Ia pun wartawan wanita pertama di Indonesia.

b.      Budi Utomo
           Pada tahun 1908 Budi Utomo dalam kongresnya yang pertama (3-4 oktober 1908) menugaskan bahwa tujuan perkumpulan itu adalah untuk kemajuan yang selaras untuk negeri dan bangsa Indonesia, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian,perternakan,perdagangan,teknik industry, dan kebudayaan.
c.       Muhammadiyah

     Pada tanggal 18 november 1912 K.H.Ahmad Dahlan mendirikan organisasi perkumpulan Muhammadiya di Yogyakarta. Muhammadiyah dengan berbagai sekolahnya didirikan dalam rangka memberikan pendidikan bagi bangsa Indonesia sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri.
   
     Dasar atau asas dan tujuan pendidikan.

Pendidikan Muhammadiyah berasaskan islam dan berpedoman kepada al-qur’an dan hadist.Tujuan pendidikan Muhammadiyah adalah membentuk membentuk manusia muslim berakhlak mulia,cakap,percaya diri dan berhuna bagi msyarakat.
     Penyelenggaraan pendidikan.Untuk mencapai tujuannya Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang tersebar dari sabang sampai marauke di bawah pimpinan majelis pengajaran.Usaha-usaha lain berupa peluasan pengajian-pengajian(dibawah bimbinangan Majelis Tabligh) menyebarkan bacaan-bacaan Agama,mendirikan masjid-masjid madrasah-madarsah,pesantren-pesantren dsb.



d.      Perkumpulan Putri Mardika
   
     Perkumpulan putrid Mardika didirikan untuk peljaran anak-anak perempuan (Odang Muchtar,1976).

e.       Trikoro Dharmo
   
     Pada tahun 1915 didirikan trikoro dharmo dan selanjutnya berdiri diberbagai tempat ditanah air hingga terwujudnya sumpah pemuda pada tahun 1928 mereka bersepakat untuk memperbanyak kesempatan pendidikan dengan membuka sekolah-sekolah sehingga dapat menampung semakin banyak anak Indonesia mempermudah mengikuti pelajaran bagis emua lapisan masyarakat dan agar para pendidik mempunyai perasaan peka sebagai putra Indonesia (HAR. Tilaar,1995).

f.       Perguruan Taman Siswa

     Pada mulanya Ki Hajar Dewantara (1889-1959) bersama teman-temannya berjuang di jalur politik praktis,selanjutnya mulai tahun 1921 perjuangannnya di fokuskan di jalur pendidikan.Hal ini Ia lakukan mengingat departemen pengajarn pemerintah Belanda bersikap diskriminarif mengenai hak dan kewajiban pendidikan bagi bangsa kita.
   




     Dasar atau asas pendidikan.

Pada pembukaan lembaga pengajaran taman siswa (3 juli 1922) Ki Hajar Dewantara mengungkapkan 7 asas pendidikannya yang kemudian di kenal dengan asas taman siswa 1922.

1.      Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan wajib mengingat tertibnya kehidupan umum.Mereka hendaknya dididik melalui “among metode”.
2.      Pengajarn berarti mendidik menjadi manusia yang merdeka batinnya,merdeka pikirannya dan merdeka tenaganya.
3.      Pendidikan hendaknya berasaskan kebudayaan kita sendiri sebagi petunjuk jalan,untuk mencari penghidupan baru yang selaras drngan kodrat kita dan akan memberikan kedamaian dalam hidup kita.
4.      Pendidikan harus diberikan kepada seluruh rakyat umum dari pada mempertinggi pengajaran kalaurdeka  usaha mempertinggi mengurangi tersebarnya pengajaran.
5.      Agar bebas merdeka lahir batin,maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri.
6.      Agar hidup tetap berdirisendiri maka segala belanja mengenai usaha kita harus dipikul sendiri dengan uang pendapatan sendiri.
7.      Dengan tidak terikat lahir batin serta kesucian hati,berminat kita berikatan dengan sang anak.
                                                   
Tujuan Pendidikan.
Pendidikan yaitu tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu,agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahgaiaan yang setinggi-tingginya.

Penyelenggaraan Pendidikan.Berdirinya perguruan nasional Taman Siswa (1922) Dimulai dengan dibukanya sekolah untuk anak-anak dibawah umur 7 tahun yang diberi nama Taman lare atau taman       anak kadang diberi nama penjelasan Froebel  Nasional atau Kindertui.

Metode Pendidikan.Cara atau metode Pendidikannya adalah (emong method)

g.      Kesatria Institut
   
     Ksatria institute didirikan di bandung oleh ernest Francoist Eugene Douwes Dekker ( Multatuli atau setya budhi ). Ia memimpin lembaga ini sejak 1922 – 1940. Dasar penidikannya adalah kebangsaan Indonesia, terutama melalui sejarah kebangsaan.
     Lulusanyan mendapat tempat di perusahaan – perusahaan swasta atau berdiri sendiri. Sampai dengan tahun 1937 perkembangan sekolahnya telah mencapai 9 sekolah yang tersebar di bandung, ciwideuy, dan cianjur 9 odang muchtar, 1976 ).

h.      Nahdatul Ulam ( NU )

     Didirikan di Surabaya pada tanggal 31 januari 1926, yang membangun perkumpulan NU adalah K.H.Hasyim Asy’ari, yang pernah menjadi raisul akbar perkumpulan ini. Sejak 1899 beliau telah membuka pesantren tebu ireng di jombang. Sebelum menjadi partai poitik NU bertujuan : memegang salah satu mazhab imam yang berempa, yaitu : 1. Syafi’I, 2. Maliki, 3. Hanafi, 4. Hambali, dan mengerjakan apa-apa yang menjadikan kemaslahatan untuk agama islam.

i.        INS Kayutanam

     Indonesia netherland school ( INS ) didrikan oleh Muhammad Sjafe’I ( 1895 – 1869 ) pada tanggal 31 Oktober 1996 di kayutanam, Suatera barat. Pada tahun 1950 kepanjangan INS di ubah menjadi Indonesia national school, dan selanjutnya menjadi institute nasional sjafe’I.
     Dasar pendidikan.Yang di kemukakan oeh Ag. Soejono 1979 Sebagai berikut :


1.      Berfikir secara logis atau rasional
2.      Keaktifan atau kegiatan
3.      Pendidikan kemasyarakatan
4.      Memperhatikan bakat anak
5.      Menentang intelektualisme.
Sejalan dengan hal di atas uasaha – usaha yang lainya :
a.      Pendidikan keindahan di perhatikan sungguh – sungguh
b.      Rasa tanggung jawab di kembangkan melalui berbagai keaktifan, agar anak didik berani berdiri sendiri
c.       Perasaan keagamaan di beri kesempatan berkembang luas dan bersih jauh dari kepicikan dan kekolotan.

Tujuan Pendidikan INS.

Tujuan pendidikan INS kayutanam sebagaimana di kemukakan Umar Tirtaraharja dan La Sulo ( 1995 ) adalah sebagai berikut :
1.      Mendidik rakyat kea rah kemerdeaan
2.      Member pendidikan yang sesuai dengan kebutuhaan masyarakat
3.      Mendidik para pemuda agar erguna untuk masyarakat
4.      Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab
5.      Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan

Penyelenggaraan Pendidikan.

Beberapa usaha yang di lakukan ruang pendidik INS  kayutanam dalam bidang pendidikan antara lain menyelenggarakan jenjang pendidikan, seperti ruang rendah  ( tujuh tahun, setara sekolah dasar ). Ruang dewasa ( empat tahun sesudah ruang rendah, setara sekolah menengah ). Dan sebagainya. Di samping itu, INS kayutanam juga menyelenggarakan usaha lain sebagai bagian mencerdaskan kehidupan bangsa, yakni penerbitan sendi ( majalah anak – anak ). Buku bacaan dalam rangka pemberantasan buta huruf atau aksara dan angkadengan judul kunci 13, mencetak buku-buku pelajaran, dan lain – lain ( Soejono 1958:46 ).
j.        Pada bulan juli tahun 1927 dalam pidato pembelaannya Bung Hatta di pengadilan Den Haag mengusulkan supaya ada perbaikan dalam berbagai bidang social, antara lain adalah bidang pembinaan pendidikan nasional.
k.      Kongres pasundan paada tahun 1930 juga menempatkan pendidikan dan pengajaran sebagai salaah satu sarana perjuangannya.
l.        Pada bulan November  dalam kongres ke-26 persatuan guru Indonesia ( PGI ) di Bandung di rumuskan supaya di adakan wajib belajar.pada kongresnya 1938di malang PGI menuntut agar pendidikan dan pengajaran di serahkan ke daerah tetapi di dahului dengan perbaikan keuangan daerah.
Usaha – usaha  rakyat, partai dan organisasi yang berjuag dalam bidang pendidikan. Seperti : Syarikat Islam (SI), perjuangan PNI, berbagai pesantren, dsb.
Selain itu , pada masa ini lahir pula konsepsi dan perintisan sistem pendidikan nasional Indonesia, maksudnya suatu sistempendidikan yang berbeda dengan siste pendidikan colonial belanda (Odang Muchtar, 1976 ). Tiga cirri pendidikan nasional ( pendidikan kaum pergerakan ) pada masa  ini yaitu: 1)  ersifat nasionalis dan sangat anti kolonialis, 2) berdiri sendiri, dan 3) pengakuan terhadap eksistensi perguruan swasta sebagai perwujudan harga diri yang tinggi dan Kebhinekaan masyarakat Indonesia serata pentingnya pengembangan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat dan bangsa Indonesia. ( HAR. Tilaar, 1995 ).







3.      Pendidikan Zaman Pendudukan Jepang

Latar Belakang Sosial Budaya.

Kekuasaan pemerintah kolnial belanda berakhir ketika pada tanggal 8 Maret 1942 mereka menyerah kepada militer ken jepang.Selanjutnya bangsa Indonesia di bawah kekuasaan pendudukan militerisme jepang selama hamper 3,5 tahun.

            Jepang menyerbu Indonesia karena kekayaan negeri ini yang sangat besar artinya bagi kelangsungan perang pasifik dan sesuai pula dengan cita – cita politik ekspansinya. Ada 2 kebijakan pemerintah pendudukan militer jepang:

1.      Menghapuskan semua pengaruh barat di Indonesia melalui “pen-jepang-an”
2.      Memobilisasi segala kekuatan dan sumber yang ada untuk mencapai kemenangan perang asia timur raya.

Pendidikan.

Implikasi kekuasaan pemerintahan pendudukan militer jepang dalam bidan pendidikan di Indonesia yaitu :

1.      Tujuan dan isi pendidikan di arahkan demi kepentingan perang asia timur raya.
2.      Hilangnya sistem dualism dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang bersifat dualistis membedakan dua jenis seolah untuk anak- anak bansa belanda dan anak – anak bumi putra di hapuskan pada jaman jepang. Sekolah bersifat terbuka untuk seluruh lapisan anak Indonesia. Namun demikian hanya satu jenis sekolah rendah di adakan bagi semua lapisan masyarakat, yaitu : sekolah rakyat 6 tahun  ( kokumin Gakko ). S ekolah desa masih tetap ada dan namanya dig anti menjadi sekolah pertama. Susunan jenjang sekolah menjadi :
a.      Sekolah rakyat 6 tahun ( termasuk sekolah pertama )
b.      Sekolah menengah 3 tahun
c.       Sekolah menengah tinggi 3 tahun
d.      Perguruan Tinggi


3.      Sistem pendidikan menjadi lebih merakyat ( populis ), pada prinsinya terjadi perubahan bahwa sekolah menjadi terbuka bagi semua lapisan masyarakat ( Demokrasi pendidikan ). Bahasa Indonesia pertama kalinya di jadikan bahasa pengantar di sekolah dan di jadikan bahasa ilmiah, di samping tentunya bahasa jepang. Sedangkan bahasa belanda dilarang untuk di gunakan ( HAR. Tilaar, 1995 )

YANG DAPAT DI PELAJARI DARI KEBANGKITAN JEPANG

Setelah kalah perang dunia ke-2 Jepang mengirim orang-orangnya ke seluruh negara maju mulai tahun 1945 hingga sekarang untuk belajar teknik industri secara khusus teknik oko motof dan kurikulum pendidikan di Amerika Serikat, Perancis, Uni Sovyet, Israel, Jerman, dan Italya. Orang-oramg Jepang tatkala itu belajar melalui mengikut sertakan orang-orangnya di berbagai seminar, workshop dan benchmarking (studi banding). Setelah berbulan-bulan dan bertahun-tahun mereka belajar dari negara-negara maju, orang-orang Jepang kembali ke Jepang dan mempresentasikan hasil belajar dan studi banding mereka dihadapan pemerintah. Setelah mereka mempresentasikan hasil belajar dari beberapa negara di dunia, baru mereka merancang dengan cara baru yaitu mereka menggunakan manajemen Kaizen yaitu, “Saya datang, Saya lihat, dan Saya akan buat dari apa yang saya lihat jauh lebih baik dari yang saya lihat.” Di bidang pendidikan Jepang pasti menggunakan manajemen Kaizen salah satunya. Apa yang hebat di Amerika dan seluruh negara maju di dunia langsung Jepang mempelajarinya hari itu juga dan hari itu pula Jepang merancang dan menerapakan kurikulum pendidikan untuk bangsanya.

SETELAH melalui sebuah fase sejarah spektakuler yang menciptakan nasionalisme sektarian, Jepang merasa diri menjadi besar. Lalu, muncul ambisi untuk menguasai dunia. Jepang mendaulat diri sebagai penguasa Asia Timur Raya. Atas motif provokasi, Jepang lalu menyerang Amerika. Di pagi hari, 8 Desember 1941, pesawat dan kapal selama Jepang mengadakan serangan mengejutkan pada Amerika yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Pearl Harbor. Pemboman ini kemudian membawa Amerika ke kancah Perang Dunia II.

Amerika membalas dengan serangan telak, berupa pemboman dua kota penyangga ekonomi Jepang: Hiroshima dan Nagasaki. Dua kota itu hancur, dan Jepang terhenyak lalu mundur teratur. Kaisar Hirohito yang sangat dimuliakan rakyatnya memerintahkan agar perang dihentikan. Bala tentara Dai Nippon yang bersemboyan Asia Timur Raya akhirnya takluk tanpa syarat kepada Sekutu dalam PD II yang menelan korban jutaan orang. Seluruh pasukan yang masih tersisa ditarik kembali.

Namun, akhirnya Jepang mampu bangkit lagi dari keterpurukan yang diciptakan oleh perang. Pertanyaan yang pertama kali terlontar dari Kaisar Jepang ketika mendengar kehancuran dua kota itu, bukanlah tentang jumlah panglima perang atau amunisi yang tersisa. Justru adalah, “berapa guru yang masih ada?â€Â. Jika dirunut ke belakang, sebetulnya kebangkitan Jepang ini memang dipengaruhi satu faktor, yaitu mereka menempatkan ilmu dan pengetahuan dalam posisi penting sejak zaman Restorasi Meiji.



TUGAS MAKALAH
LANDASAN HISTORIA PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN KAUM PERGERAKAN NASIONAL DAN PENDIDIKAN ZAMAN MILITERISME JEPANG
BERSAMA:
Mr. Mustakim JM, M.Pd














DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 10
Farah Dina (1888203046)
Nabila Khairunnisa Rianto (188203063)
Prodi: Bahasa Inggris
Kelas: 1.1


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkotribusi dengan memberikan dukungan baik moral maupun materil.

Dengan ini, kami berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan serta pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu,
Saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca sangat dibutuhkan untuk dapat menyempurnakan dan menjadikan makalah ini lebih baik lagi.





Pekanbaru, 16 oktober 2018

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang iii
B. Rumusan Masalah iii
C. Tujuan Penulisan iii

BAB II PEMBAHASAN
A. Landasan Historia Pendidikan Indonesia 1
B. Pendidikan Pada Zaman Pergerakan Nasional 2
C.Pendidikan Pada Zaman Militerisme Jepang 9

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA



LATAR BELAKANG

Selama ada kehidupan di dunia, selama itu pula perlu adanya pendidikan. Kondisi pendidikan di setiap negara berubah-ubah tergantung masa atau zamannya, termasuk di Indonesia. Kondisi pendidikan di Indonesia terus berkembang dari waktu ke waktu. Baik dari zaman purba, hingga sampai saat ini. Perkembangan pendidikan dipengaruhi banyak hal. Dalam pelaksanaan pendidikan, tentunya muncul berbagai permasalahan, baik masalah sederhana hingga masalah yang serius. Untuk itu, dalam makalah ini kami akan membahas mengenai Landasan Historis Pendidikan di Indonesia.

RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan Landasan Historia Pendidikan?
2. Bagaimana sistem Pendidikan pada masa Pergerakan Nasional?
3. Bagaimana sistem Pendidikan pada masa Kemiliterisme Jepang?

TUJUAN PENULISAN

1. Agar para pembaca makalah ini dapat mengetahui tentang sejarah perkembangan  Pendidikan Indonesia.
2. Agar para pembaca menyadari pentingnya memperoleh Pendidikan
           3. Untuk memenuhi tugas Presentasi kelompok dalam mata kuliah Landasan Pendidikan.





LANDASAN HISTORI PENDIDIKAN INDONESIA

Sejarah/historis adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya (Pidarta, 2007: 109).
Sedangkan pendidikan adalah sebuah proses yang arif, terencana dan berkesinambungan guna mendorong atau memotivasi peserta didik dalam mengembangkan  potensinya. Maka dari itu, yang dimaksud dengan landasan historis pendidikan adalah sejarah yang menjelaskan dasar-dasar pendidikan di masa lalu yang menjadi acuan terhadap pengembangan pendidikan di masa kini. Landasan historis memberikan peranan yang penting karena dari sebuah landasan historis atau sejarah bisa membuat arah pemikiran kepada masa kini. Menurut Pidharta , (2007 : 109)
Dengan demikian, setiap bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk maju, pada umumnya dikaitkan dengan bagaimana keadaan bidang tersebut pada masa yang lampau (Pidarta, 2007: 110). Demikian juga halnya dengan bidang pendidikan. Sejarah pendidikan merupakan bahan pembanding untuk memajukan pendidikan suatu bangsa.






PENDIDIKAN PADA ZAMAN PERGERAKAN NASIONAL

Pergerakan nasional adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kaum penjajah yang dilaksanakan tidak dengan menggunakan kekuatan bersenjata, tetapi menggunakan organisasi yang bergerak di bidang sosial, budaya, ekonomi dan politik. Demikian halnya dengan pergerakan nasional yang terjadi di Indonesia.
Pendidikan pada jaman Pergerakan Nasionla ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh pendidikan dan organisasi-organisasi pergerakan nasional serta sekoklah-sekolah yang melahirkan siswa yang memiliki pandangan nasional. Pada masa ini Organisasi Pergerakan Nasional juga memiliki media (pers) untuk menyampaikan gagasan tentang kebangsaan.

FAKTOR YANG MENDORONG TIMBULNYA PERGERAKAN NASIONAL
1. Penderitaan dan kondisi yang merugikan bangsa Indonesia akibat kebijakan pemerintah kolonial Belanda menimbulkan rasa senasib sepenanggungan sehingga timbul rasa nasionalisme.
2. Kebesaran di masa lampau bangsa kita memperkuat rasa harga diri sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka.
3. Kaum terpelajar di kalangan bangsa kita terdorong untuk berperan menjadi motor pergerakan.
4. Bahasa Melayu merupakan bahasa kesatuan menyadarkan bahwa kita adalah satu bangsa.
5. Karena mayoritas bangsa kita beragama Islam, timbul persepsi bahwa Belanda adalah kafir.
Faktor dari dalam
1. Penderitaan akibat praktek-praktek kolonialisme yang menumbuhkan perasaan senasib dan sepenanggungan
2. Politik Etis menumbuhkan golongan cendekiawan dan menjadi pelopor pergerakan nasional
Faktor dari luar
1. Kemenangan Jepang melawan Rusia dalam perang tahun 1905
2. Adanya pergerakan nasional di negara lain seperti India, Fillipina, Cina, Turki
I.Djumhur dan H. Danasuparta (1976) mengemukakan bahwa setelah tahun 1900 usaha-usaha partikelir di bidang pendidikan berlangsung dengan sangat giatnya. Pada masa itu lahir sekolah-sekolah partikelir yang diselenggarakan para perintis kemerdekaan yang terbagi atas dua corak yaitu :
1.    Sekolah-sekolah yang bercorak politik, diselenggarakan oleh Ki Hajar Dewantara (Taman Siswa), Dr. Douwes Dekker atau Dr. Setiabudhi (Ksatrian Institut), Moch. Sjafei (INS Kayutanam) dsb.
2.    Sekolah-sekolah yang bercorak Islam, diselenggarakan oleh Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Sumatera Tawalib, dll.
Masa Pergerakan Nasional  (1908-1942) dibagi dalam 3 tahap yaitu :
1.  Masa Pembentuka (1908-1920), berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Serikat Islam, Indische Partij dan lainnya.
2. Masa Radikal / Non Kooperasi (1920-1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Himpunan Indonesia (HI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).
3. Masa Kooperasi (1930-1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi.



ORGANISASI PADA ZAMAN PERGERAKAN NASIONAL

A. Budi Utomo
     Dalam Kongres pertamanya (3-4 Desember 1908), Budi Utomo menegaskan tujuan perkumpulan adalah untuk kemajuan yang selaras untuk untuk negeri dan bangsa Indonesia.
B. Muhammadiyah
     Berdiri pada tanggal 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Didirikan dalam rangka memberikan pendidikan bagi bangsa Indonesia sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri. Dasar pendidikannya berasaskan Islam dan berpedoman kepada Al-Qur’an dan hadist. Tujuannya untuk membentuk manusia manusia muslim berakhlak mulia, cakap, percaya diri dan berguna bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuannya Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dibawah pimpinan Majelis Pengajaran. Sampai kini Muhammadiyah terus berjuang dan berkembang dalam rangka mencapai cita-citanya.
C. Perkumpulan Putri Mardika
     Didirikan pada tahun 1912, bertujuan untuk memajukan pengajaran anak-anak perempuan (Odang, Muchtar, 1976)
D. Trikoro Dharmo
     Didirikan tahun 1915. Berbagai organisasi pemuda dan pelajar yang berdiri hingga terjadi Sumpah Pemuda tahun 1928, bersama – sama gerakan lainnya menyumbangkan jasa yang besar demi pendidikan nasional dan kemerdekaan Indonesia.


E. Perguruan Taman Siswa
     Awalnya Ki Hajar Dewantara (1889-1959) bersama rekannya berjuang di jalur politik praktis, namun mulai tahun 1921 perjuangannya difokuskan di jalur pendidikan.
     Taman Siswa didirikan di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara tujuan asas pendidikannya yang dikenal dengan azas Taman Siswa 1922, yaitu :
1.        Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan wajib mengingat  tertibnya kehidupan umum.
2.        Pengajaran berarti mendidik untuk menjadi manusia yang merdeka batinnya, fikiran dan tenaganya.
3.        Pendidikan hendaknya berasaskan kebudayaan kita sendiri.
4.        Pendidikan harus diberikan kepada seluruh rakyat umum.
5.        Agar bebas, merdeka lahir batin, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri.
6.        Agar hidup tetap dengan berdiri sendiri, maka segala belanja harus dipikul dengan uang pendapatan sendiri
7.        dengan tidak terikat lahir batin, serta kesucian hati, berminat kita berdekatan dengan sang anak.
Pada tahun 1974 asas Taman Siswa (1922) diubah menjadi “Panca Dharma” Taman Siswa, yaitu : “Kebebasan atau kemerdekaan, Kebudayaan, Kodrat Alam, kebangsaan dan kemanusian”



F. Ksatriaan Institut
       Ksatrian Institut didirikan oleh Ernest Francoist Eugene douwes Dekker (Multatuli atau Setyabudhi) yang memimpin lembaga ini sejak 1922-1940. Dasar pendidikannya adalah kebangsaan Indonesia, terutama melalui sejarah kebangsaan. Tujuannya adalah menghasilkan ksatria (ridderschap) bagi Indonesia Merdeka di masa datang. (Odang Muchtar, 1976).
G.  Nahdlatul Ulama (NU)
       Didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926. Salah seorang ulama yang mendirikan NU adalah KH. Hasyim Asy’ari yang pernah menjadi Raisul Akbar perkumpulan ini. Sebelum menjadi Partai politik NU bertujuan memegang teguh salah satu mazhab dari empat mazhab yang ada (Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali) dan mengerjakan apa-apa yang menjadi kemaslahatan untuk agama Islam. Setelah menjadi partai Politik (Mei 1952) hingga  kini NU masih terus berjuang melakukan inovasi dan menyelenggarakan Pendidikan ( I. Djumhur dan H. Danasuparta, 1976).
H. INS Kayutanam
       Didirikan oleh Muhammad Syafei (1985-1969) pada tanggal 31 Oktober 1926 di kayu tanam Sumatera Barat. Perjuangan INS diarahkan demi kemerdekaan melalui pendidikan yang menekankan lulusannya agar dapat berdiri sendiri tidak tergantung pada orang lain atau jabatan yang diberikan kaum penjajah.
         Tujuan pendidikannya seperti dikemukakan Umar Tirtaraharja dan La Sulo (1995) yaitu mendidik rakyat ke arah kemerdekaan, memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat, menanamkan kepercayaan diri dan berani bertanggung jawab dan mengusahakan mandiri dalam pembiayaan.


I. Sarekat Islam
Semula bernama SAREKAT DAGANG ISLAM, yg didirikan di Surakarta 1909. Oleh KH. Samanhudi dalam Bidang agama dan perdagangan. Pada tahun1911, SDI berubah jadi Sarekat Islam. Dipimpin HOS. Cokroaminoto. Tokoh lain: H. Agus Salim, Abdul Muis.
J. Indische Partij
* Didirikan RM. Suwardi Suryaningrat, dr Cipto Mangunkusumo, EFE. Douwes Dekker, 1912, Bandung.
* Suwardi Suryaningrat mengkritik perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dengan tulisan Als ik een Nederlander was [andai aku seorang Belanda]
* Kihajar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dibuang ke Belanda.
K. Perhimpunan Indonesia [tadinya bernama Indische vereeniging]
* Didirikan oleh pelajar Indonesia di negeri Belanda 1922.
* Tokoh: Moh. Hatta, Ahmad Subardjo, Natzir Pamontjak, Abdul Majid Joyodiningrat.
* PI menuntut Indonesia Merdeka 1926, anggota PI mengikuti Kongres Liga Anti Imperialisme di Brussel, Belgia. Pemimpin PI akhirnya ditangkap Belanda, tetapi kembali dibebaskan, karen tidak terbukti bersalah.
L.  Indische Sociaal Democratische Vereeniging [ISDV]
*Dikembangkan Sneevliet
* ISDV melakukan penetrasi ke tubuh organisasi pergerakan, antara lain SI, melalui Semaun dan Darsono.
* SI pecah jadi 2: * SI Merah condong ke paham sosialis * SI putih mempertahankan asas dan tujuan SI
* Semaun adalah pimpinan SI Merah, setelah keluar dari SI Merah ia mendirikan PKI.  PKI berkaitan dengan komitern di Moscow, Uni Soviet.
* PKI mempengaruhi petani dan rakyat kecil
* 1926, pemberontakan PKI di Madiun. Oleh Alimin dan Tan Malaka, tapi gagal.
M. PNI
* Didirikan tahun 1927, Bandung.
* Oleh pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club dengan ketua Ir. Soekarno.
* PNI membahayakan Belanda. Maka tokoh-tokoh PNI ditangkap dan dimasukkan dalam penjara Sukamiskin, Bandung. Dalam penjara Ir. Soekarno menulis pidato "Indonesia Menggugat"
* Ir. Soekarno diganti oleh Mr. Sartono. Mr. sartono kemudian membubarkan PNI dan membentuk Partindo.
* Moh. Hatta yang tidak setuju pembentukan Partindo membentuk PNI Baru
* Ir. Soekarno bergabung dengan Partindo.
* Ir. Soekarno ditangkap dan dibuang ke Endi, Flores. Moh. Hatta dan Syahrir dibuang ke Bandaneira.







PENDIDIKAN PADA ZAMAN MILITERISME JEPANG

 Implikasi kekuasaan pemerintahan pendudukan militer Jepang dalam bidang Pendidikan di Indonesia yaitu: Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya. Contoh: Tiap pagi di sekolah-sekolah dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”. Upacara pagi dilanjutkan dengan pengibaran bendera Hinomaru dan membungkuk untuk menghormat Tenno Heika. Tiap hari para siswa harus mengucapkan sumpah pelajar dalam bahasa Jepang, melakukan taiso (senam), dan diwajibkan pula melakukan kinrohoshi (kerja bakti). Selain itu, dibentuk PETA sebagai program pendidikan militer bagi para pemuda; dibentuk barisan murid-murid Sekolah Rakyat (Seinen-tai); dan barisan murid-murid Sekolah Lanjutan (Gakutotai).

Pada zaman Jepang. Sekolah bersifat terbuka untuk seluruh lapisan anak Indonesia. Namun demikian, hanya satu jenis sekolah rendah diadakan bagi semua lapisan masyarakat, yaitu: Sekolah Rakyat 6 tahun (Kokumin Gakko). Sekolah Desa masih tetap ada dan namanya diganti menjadi Sekolah Pertama. Susunan jenjang sekolah menjadi:

Sistem Pendidikan menjadi lebih merakyat (populis). Sebagaimana dikemukakan di atas, pada prinsipnya terjadi perubahan bahwa sekolah menjadi terbuka bagi semua lapisan masyarakat (“Demokrasi Pendidikan”). Hapusnya sistem Konkordansi dan masuknya sistem baru yang relatif lebih praktis dan terarah bagi kebutuhan masyarakat. Selain itu bahasa Indonesia pertama kalinya dijadikan bahasa pengantar di sekolah dan dijadikan bahasa ilmiah, di samping tentunya bahasa Jepang. Sedangkan bahasa Belanda dilarang untuk digunakan (H.A.R. Tilaar, 1995).


Jepang menganggap pendidikan penting untuk rakyat Indonesia guna mendukung maksud dan tujuannya tesebut. Murid-murid hanya mendapat pengetahuan yang sedikit sekali, hampir sepanjang hari hanya diisi dengan kegiatan pelatihan  perang atau bekerja. Kegiatan-kegiatan sekolah antara lain :

a. Mengumpulkan batu,pasir untuk kepentingan perang.
b. Membersihkan bengkel-bengkel, asrama-asrama militer.
c. Menanam ubi-ubian, sayur-sayurran, di pekarangan sekolah untuk persediaan makanan.
d. Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.

Ada tiga macam sekolah guru di zaman Jepang, yaitu:

1. Sekolah guru 2 tahun = Syoto Sihan Gakko,
2. Sekolah guru menengah 4 tahun = Guto Sihan Gakko, dan
3. Sekolah guru tinggi 6 tahun = Koto Sihan Gakko

Sekolah-sekolah yang ada pada zaman Jepang :

1.      jenjang sekolah dasar menggunakan istilah Sekolah Rakyat (SR) atau Kokumin Gakko. Lama pendidikan 6 tahun terbuka unruk semua golongan penduduk.

2.      Jenjang sekolah menengah pertama (SMP) atau Shot chu Gakko. Lama pendidikan 3 tahun. Terbuka untuk yang memiliki ijazah SR.

3.      Jenjang sekolah menengah tinggi (SMT) atau Koto Chu Gakko. Lama jenjang pendidikan 3 tahun.

4.  Jenjang perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut adalah :
a. Sokolah tinggi kedokteran (Ika Dai Gakko) di Jakarta.
b. Sekolah teknik tinggi (Kogyo Dai Gakko ) di Bandung
c. Sekolah tinggi Pamong Praja (Kenkoku Gakuin)
d. Sekolah tinggi Kedokteran Hewan di Bogor

5.  Adapun sekolah kejuruan menengah adalah :
a. Sekolah pertukangan atau Kogyo Gakko
b. Sekolah teknik menengah atau Kogyo Semino gakko
c. Sekolah pelayaran menengah dan pelayaran tinggi
d. Sekolah pertanian di Tasikmalaya di Malang

Pelajaran-pelajaran yang diberikan meliputi Sejarah Ilmu Bumi, Bahasa Indonesia (Melayu), Adat Istiadat, Bahasa Jepang, Ideologi Jepang (Ideologi Hakko Ichi) dan Kebudayaan Jepang.


PERUBAHAN  DALAM SISTEM PENDIDIKAN JEPANG
:
1.Dihapusnya dualisme pengejaran: yaitu jenis pengajaran pada zaman pemerintahan belanda. Sehingga hanya ada satu sekolah rendah
2. Bahasa indonesia dijadikan bahasa resmi dan bahasa pengantar bagi semua jenis Sekolah. bahasa jepang dijadikan mata pelajaran wajib dan adat kebiasaan Jepang harus ditaati.








Isi Pengajaran Pendidikan Zaman Jepang:

1. Pengajaran dipergunakan sebagai alat propaganda dan juga untuk kepentingan perang. Murid-murid seringkali diharuskan kerja bakti, misalnya : membersihkan bengkel, asrama, membuat bahan-bahan untuk kepentingan pertahanan, dan sebagainya.

2. Untuk melipatgandakan hasil bumi, murid-murid diharuskan membuat pupuk kompos atau beramai-ramai membasmi hama tikus di sawah. Sebagian waktu belajar digunakan untuk menanami halaman sekolah dan pinggir-pinggir jalan dengan tanaman jeruk.

3. Pelatihan-pelatihan jasmani berupa pelatihan kemiliteran dan mengisi aktivitas-aktivitas murid-murid sehari-hari. Agar berjalan lancar, pada tiap-tiap sekolah dibentuk barisan-barisan murid. Barisan murid-murid SD disebut seinen-tai, sedangkan barisan murid-murid sekolah lanjutan disebut Gakutotai.

4. Untuk menanamkan semangat Jepang , tiap-tiap hari murid harus mengucapkan sumpah belajar dalam bahasa Jepang. Mereka harus mengusai bahasa dan nyanyian Jepang. Tiap pagi diadakan upacara, dengan menyembah bendera Jepang dan menghormati istana Tokyo.

5. Agar bahasa Jepang lebih populer , diadakan ujian bahasa Jepang untuk para guru dan pegawai-pegawai, yang dibagi atas lima tingkat. Pemilik ijazah ini mendapat tambahan upah.

6. Buku-buku dalam bahasa asing yang diperlukan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Dengan mengabaikan hak cipta internasional karena dalam suasana perang.


7. Kreativitas guru-guru dan berkembang dalam memenuhi kekurangan buku pelajaran dengan menyadur atau mengarang sendiri, termasuk kreativitas untuk menciptakan alat peraga dan model dengan bahan dan alat yang tersedia.

8. Seni bela diri dan pelatihan perang-perang sebagai kegiatan kulikuler di sekolah telah membangkitkan keberanian pada para pemuda yang ternyata sangat berguna dalam perang kemerdekaan yang terjadi kemudian.

9. Diskriminasi menurut golongan penduduk, keturunan dan agama ditiadakan, sehingga semua lapisan masyarakat mendapat kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan.

10. Sekolah-sekolah diseragamkan dan sekolah-sekolah swasta dinegerikan serta berkembang dibawah pengaturan kantor pengajaran Bunkyo Kyoku.

11. Karena pengaruh inktrinasi yang ketat untuk menjepangkan rakyat Indonesia, justru perasaan rindu kepada kebudayaan sendiri dan kecerdasan nasional berkembang dan bergejolak secara biasa.

12. Bangsa Indonesia dididik dan dilatih untuk memegang jabatan walaupun di bawah pengawasan orang-orang Jepang.









Kebijakan dalam mendekati Islam Indonesia dalam  pendidikan

a.       Pondok pesantren yang besar-besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang

b.      Sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran-ajaran agama, terutama agama Islam.

c.       Pemerintah Jepang juga mengizinkan berdirinya sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H.Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir dan Bung Hatta.

d.      Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah. Pada masa penduduk Jepang, ada satu hal istimewa dalam dunia pendidikan sebagaimana telah dikemukakan, yaitu sekolah-sekolah telah diseragamkan dan dinegerikan meskipun sekolah-sekolah swasta lain, seperti Muhammadiyah, Taman siswa dan lain-lain didizinkan terus berkembang dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh penduduk Jepang.

SEGI POSITIF PENDIDIKAN PENJAJAHAN JEPANG

1.      Jepang memerikan pendidikan militer kepada para pemuda Indonesia, dengan maksud memperkuat pertahanan mereka. Namun, pendidikan ini secara tidak langsung memberikan bekal kepada para pejuang bangsa dalam bidang keprajuritan untuk mewujudkan cita-cita merdeka.

2.      Menghapus dualisme pendidikan penjajahan belanda dan nenggantinya dengan dengan pendidikan yang sama bagi setiap orang.

3.      Pemakaian bahasa Indonesia secara luas diinstruksikan oleh penjajah Jepang. Bahasa Indonesia mulai dipakai di lembaga-lembaga pendidikan, di kantor-kantor, dan dalam pergaulan sehari-hari.

ORGANISASI POLITIK BENTUKAN JEPANG

a. Gerakan Tiga A
Dengan nama Gerakan Tiga A tersebut merupakan singkatan dari semboyan propaganda Jepang, yaitu Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon PemimpinAsia..
b. Poetera
Pada tanggal 1 Maret 1942, ia mengumumkan lahirnya gerakan baru yang bernama Poesat Tenaga Rakyat yang disingkat Poetera. Bagi Jepang, tujuan pembentukan Poetera adalah untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia dalam rangka membantu usaha perangnya.
c. Jawa Hokokai
 Tahun 1944, Panglima Tentara Keenam belas, Jenderal Kumakici Harada, menyatakan berdirinya organisasi Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa).. Kegiatan-kegiatan Jawa Hokokai sebagaimana digariskan dalam peraturan dasarnya adalah sebagai berikut:
1.      Melaksanakan segala sesuatu dengan nyata dan ikhlas untuk menyumbangkan segenap tenaga kepada pemerintah Jepang
2.      Memimpin rakyat untuk menyumbangkan segenap tenaga berdasarkan semanga tpersaudaraan antar segala bangsa
3.      Memperkokoh pembelaan tanah air.



ORGANISASI MILITER BENTUKAN JEPANG

a)      Pada tanggal 9 Maret 1943 didirikan gerakan Seinendan (Barisan Pemuda). Pelantikannya dilakukan 29 April 1943, dengan anggota ± 3500 pemuda. Tujuannya untuk melatih dan mendidik para pemuda, agar mampu menjaga dan mempertahankan tanah air dengan kekuatan sendiri. Persyaratan untuk menjadi Seinendan adalah: pemuda berusia 14 - 23 tahun.
b)      Pembentukan Barisan Pelajar (Gokutai) untuk pelajar SD - SLTA
c)      Fujinkai (Barisan Wanita). Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas para wanita berusia 15 tahun ke atas
d)     Pembentukan Barisan Pembantu Polisi (Keibodan), dengan syarat yang lebih ringan dari Seinendan, usia yang diprioritaskan ± 23 - 25 tahun. Untuk Keibodan ini ada keharusan untuk setiap desa (Ku) yang memiliki pemuda dengan usia tersebut dan berbadan sehat wajib menjadi Keibodan. Sistem pengawasan Keibodan ini diserahkan pada Polisi Jepang.
e)      Pembentukan Barisan Pembantu Prajurit Jepang (Heiho) April 1943. Anggota Heiho adalah pemuda berusia ± 18 - 25 tahun, dengan pendidikan terendah SD. Mereka akan ditempatkan langsung pada angkatan perang Jepang (AL - AD). Disinilah para pemuda kita mendapat tempat latihan militer yang sesungguhnya dengan kemampuan yang tinggi.
f)       Jibakutai (Barisan Berani Mati) Jibakutai dibentuk pada tanggal 8 Desember 1944. Barisan ini rupanya mendapatkan inspirasi dari pilot Kamikaze yang sanggup mengorbankan nyawanya dengan jalan menabrakkan pesawatnya kepada kapal perang musuh.
g)      Pembentukan Barisan Semi Militer khusus direkrut dari golongan Islam dengan nama : Hizbullah (Tentara Allah) diantaranya tokoh Otto Iskandinata dan Dr. Buntaran Martoatmojo
h)      Pembentukan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) tanggal 3 Oktober 1943 dilakukan atas permohonan Gatot Mangkuprojo kepada Panglima Tertinggi Jepang Letjen Kumakichi Harada tanggal 7 September 1943.
i)        Beberapa hari sesudah janji kemerdekaan (9 September 1944) dibentukBenteng Perjuangan Jawa  (Jawa Sentotai) ini merupakan badan perjuangan dalam Jawa Hokokai, bahkan organisasi lainpun dibentuk seperti Barisan Pelopor ( Suisyintai) dipimpin langsung oleh Ir. Soekarno, Sudiro, RP. Suroso, Otto Iskandardinata dan Dr. Buntaran Martoatmojo.















Adapun beberapa kebijakan Jepang dalam bidang kependidikan :

Mengambil tenaga pribumi dengan merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan. Upaya ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem Nipponize (Jepangisasi)yang mereka jalankan di Manchuria dan China. Karena itulah, di Indonesia mereka menggunakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal. Sekalipun menjelang akhir masa pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang menerapkan sistem Nipponize kembali, yakni dengan dikerahkannya para Sendenbu(propagator Jepang) untuk menghancurkan ideologi Indonesia Ray.

Melatih guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain: (1) Indoktrinasi ideologi Hakko Ichiu, yaitu “Kemakmuran Bersama Asia Raya” dengan semboyan Asia untuk Asia; (2) Nippon Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang; (3) Bahasa, sejarah dan adat-istiadat Jepang; (4) Ilmu bumi dengan perspektif geopolitis; serta (5) Olahraga dan nyanyian Jepang.

Jepang menginstruksikan ditutupnya sekolah-sekolah berbahasa Belanda, pelarangan materi tentang Belanda dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, sehingga memaksa peranakan China kembali ke sekolah-sekolah berbahasa Mandarin di bawah koordinasi Hua-Chino Tsung Hui, yang berimplikasi pada adanya prosesresinification(penyadaran dan penegasan identitas sebagai keturunan bangsa China). Kondisi ini antara lain memaksa para guru untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa asing kedalam Bahasa Indonesia untuk kepentingan proses pembelajaran.

Pendidikan Guru Indonesia Dalam Zaman Jepang

Setelah Belanda menyerah kepada Jepang. Pemerintahan Militer Jepang memutuskan untuk .memulihkan kehidupan sehari hari secepat mungkin, keputusan lni dilaksanakan antara lain dengan membuka .kembali herbagai pelayanan umum, seperti hubungan kereta api antar-kota, pelayanan pos, telepon, dan telegram, dan‘penyelenggaraan pendidikan. Ini dilakukan dengan membuka kembali sekolah-sekolah yang ditutup pada waktu tentara Jepang mulai menduduki daerah  daerah Indonesia,  Sekolah-sekolah Pemerintah dibuka secara otomatis, tanpa harus melalui prosedur-prosedur birokrasi yang berliku-liku. Tetapi untuk sekolah-sekolah swasta diperlukan izin dari Pemerintahan Militer Jepang. Ada perguruan swasta yang boleh dibuka kembali, tetapi ada pula yang tidak boleh dibuka kembali.
Pembukaan kembali sekolah-sekolah di Jawa merupakan bagian dari program jangka panjang Pemerintahan Militer Jepang untuk menguasai Indonesia. Ada dua bidang kehidupan di Indonesia yang ditetapkan oleh Pemerintah Militer Jepang untuk digarap dengan skema jangka panjang, yaitu bidang budaya dan bidang pendidikan. Di samping program-program jangka panjang, Pemerintahan Militer Jepang juga telah mempersiapkan serangkaian program jangka pendek. Program-program jangka pendek ini mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
Merebut simpati penduduk, terutama kaum cendekiawan;
Merebut simpati dari umat Islam Indonesia;
Membentuk jaringan pengamanan negara sampai ke tingkat RT;
Mempersiapkan sistem pertahanan untuk membantu Tentara Jepang bila tentara sekutu sampai menyerang Indonesia;
Obilisasi rakyat untuk melaksanakan proyek-proyek militer Jepang (proyek kerja paksa atau roomusha).
Sekolah-sekolah menjadi tempat indoktrinasi Jepang. Jepang menilai bahwa pendidikan membentuk kader-kader untuk memelopori dan melaksanakan konsepsi ‘Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya’.
Tak bisa kita pungkiri, kedatangan Jepang ke Indonesia memberikan banyak pengaruh bagi negara kita. Ingat kemerdekaan ? Mengapa bisa ada kemerdekaan ? Karena ada penjajahan. Jika tidak ada momen penjajahan, tidak ada momen kemerdekaan. 'Mau merdeka dari apa ?' bahasa singkatnya.
Mengapa kita bisa dijajah ? Karena indonesia memiliki banyak kekayaan alam.








KESIMPULAN

Dari rangkaian sejarah yang menjadi landasan historis pendidikan di Indonesia, kita dapat menyimpulkan bahwa masa-masa tersebut memiliki wawasan yang tidak jauh berbeda satu dengan yang lain. Mereka sama-sama menginginkan pendidikan yang bertujuan mengembangkan individu peserta didik. Dalam arti memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi mereka secara alami, dan demi kemajuan yang lebih baik.
Dengan demikian kami berharap hasil pendidikan dapat berupa ilmuwan, innovator, dan orang-orang perpendidikan lainnya yang juga peduli terhadap lingkungan serta mampu untuk memperbaikinya, dan meningkatkan tingkat peradaban manusia. Bukan justru sebaliknya.
Hal ini dikarenakan pendidikan selalu dinamis mencari yang baru, memperbaiki dan memajukan diri, agar tidak ketinggalan zaman, dan selalu berusaha menyongsong zaman yang akan datang.


SARAN

`Sebagai calon pendidik atau orang yang akan berkecimpung dalam dunia pendidikan, sudah sepatutnya kita mengetahui dan memahami sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, dalam hal ini Landasan Historis Pendidikan. Dengan mematuhi historis tersebut, dimaksudkan agar calon pendidik beserta para instrument pendidikan lainnya, dapat mengindari kesalahan-kesalahan pada pendidikan yang terdahulu, sehingga tidak terulang kembali pada pendidikan yang akan mendatang. Sebaliknya, yakni dapat mempertahankan bahkan meningkatkan nilai-nilai pendidikan yang baik dan bermutu demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Dengan mewariskan, menggunakan karya dan pengalaman masa lampau, pendidikan menjadi pengawal, perantara, dan juga sebagi pemelihara peradaban yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

http://makalahpendidikanagamaislamtarbiyah.blogspot.com/2016/11/makalah-landasan-historis-pendidikan.html
http://akhmad-sugianto.blogspot.com/2013/09/landasan-historis-pendidikan.html
https://dyahrochmawati08.wordpress.com/2008/11/30/landasan-historis-pendidikan-di-indonesia/
http://mustakimjm.blogspot.com


UAS IMALT (Farah Dina)

Name: Farah Dina NIM: 1888203046 Class: 5.1 UAS IMALT  Give your idea/opini for the following point : 1. What is media in teaching? How ma...