TUGAS MAKALAH
LANDASAN HISTORIA PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN KAUM PERGERAKAN NASIONAL DAN PENDIDIKAN ZAMAN MILITERISME JEPANG
BERSAMA:
Mr. Mustakim JM, M.Pd
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 10
Farah Dina (1888203046)
Nabila Khairunnisa Rianto (188203063)
Prodi: Bahasa Inggris
Kelas: 1.1
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkotribusi dengan memberikan dukungan baik moral maupun materil.
Dengan ini, kami berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan serta pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu,
Saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca sangat dibutuhkan untuk dapat menyempurnakan dan menjadikan makalah ini lebih baik lagi.
Pekanbaru, 16 oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang iii
B. Rumusan Masalah iii
C. Tujuan Penulisan iii
BAB II PEMBAHASAN
A. Landasan Historia Pendidikan Indonesia 1
B. Pendidikan Pada Zaman Pergerakan Nasional 2
C.Pendidikan Pada Zaman Militerisme Jepang 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LATAR BELAKANG
Selama ada kehidupan di dunia, selama itu pula perlu adanya pendidikan. Kondisi pendidikan di setiap negara berubah-ubah tergantung masa atau zamannya, termasuk di Indonesia. Kondisi pendidikan di Indonesia terus berkembang dari waktu ke waktu. Baik dari zaman purba, hingga sampai saat ini. Perkembangan pendidikan dipengaruhi banyak hal. Dalam pelaksanaan pendidikan, tentunya muncul berbagai permasalahan, baik masalah sederhana hingga masalah yang serius. Untuk itu, dalam makalah ini kami akan membahas mengenai Landasan Historis Pendidikan di Indonesia.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Landasan Historia Pendidikan?
2. Bagaimana sistem Pendidikan pada masa Pergerakan Nasional?
3. Bagaimana sistem Pendidikan pada masa Kemiliterisme Jepang?
TUJUAN PENULISAN
1. Agar para pembaca makalah ini dapat mengetahui tentang sejarah perkembangan Pendidikan Indonesia.
2. Agar para pembaca menyadari pentingnya memperoleh Pendidikan
3. Untuk memenuhi tugas Presentasi kelompok dalam mata kuliah Landasan Pendidikan.
LANDASAN HISTORI PENDIDIKAN INDONESIA
Sejarah/historis adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya (Pidarta, 2007: 109).
Sedangkan pendidikan adalah sebuah proses yang arif, terencana dan berkesinambungan guna mendorong atau memotivasi peserta didik dalam mengembangkan potensinya. Maka dari itu, yang dimaksud dengan landasan historis pendidikan adalah sejarah yang menjelaskan dasar-dasar pendidikan di masa lalu yang menjadi acuan terhadap pengembangan pendidikan di masa kini. Landasan historis memberikan peranan yang penting karena dari sebuah landasan historis atau sejarah bisa membuat arah pemikiran kepada masa kini. Menurut Pidharta , (2007 : 109)
Dengan demikian, setiap bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk maju, pada umumnya dikaitkan dengan bagaimana keadaan bidang tersebut pada masa yang lampau (Pidarta, 2007: 110). Demikian juga halnya dengan bidang pendidikan. Sejarah pendidikan merupakan bahan pembanding untuk memajukan pendidikan suatu bangsa.
PENDIDIKAN PADA ZAMAN PERGERAKAN NASIONAL
Pergerakan nasional adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kaum penjajah yang dilaksanakan tidak dengan menggunakan kekuatan bersenjata, tetapi menggunakan organisasi yang bergerak di bidang sosial, budaya, ekonomi dan politik. Demikian halnya dengan pergerakan nasional yang terjadi di Indonesia.
Pendidikan pada jaman Pergerakan Nasionla ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh pendidikan dan organisasi-organisasi pergerakan nasional serta sekoklah-sekolah yang melahirkan siswa yang memiliki pandangan nasional. Pada masa ini Organisasi Pergerakan Nasional juga memiliki media (pers) untuk menyampaikan gagasan tentang kebangsaan.
FAKTOR YANG MENDORONG TIMBULNYA PERGERAKAN NASIONAL
1. Penderitaan dan kondisi yang merugikan bangsa Indonesia akibat kebijakan pemerintah kolonial Belanda menimbulkan rasa senasib sepenanggungan sehingga timbul rasa nasionalisme.
2. Kebesaran di masa lampau bangsa kita memperkuat rasa harga diri sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka.
3. Kaum terpelajar di kalangan bangsa kita terdorong untuk berperan menjadi motor pergerakan.
4. Bahasa Melayu merupakan bahasa kesatuan menyadarkan bahwa kita adalah satu bangsa.
5. Karena mayoritas bangsa kita beragama Islam, timbul persepsi bahwa Belanda adalah kafir.
Faktor dari dalam
1. Penderitaan akibat praktek-praktek kolonialisme yang menumbuhkan perasaan senasib dan sepenanggungan
2. Politik Etis menumbuhkan golongan cendekiawan dan menjadi pelopor pergerakan nasional
Faktor dari luar
1. Kemenangan Jepang melawan Rusia dalam perang tahun 1905
2. Adanya pergerakan nasional di negara lain seperti India, Fillipina, Cina, Turki
I.Djumhur dan H. Danasuparta (1976) mengemukakan bahwa setelah tahun 1900 usaha-usaha partikelir di bidang pendidikan berlangsung dengan sangat giatnya. Pada masa itu lahir sekolah-sekolah partikelir yang diselenggarakan para perintis kemerdekaan yang terbagi atas dua corak yaitu :
1. Sekolah-sekolah yang bercorak politik, diselenggarakan oleh Ki Hajar Dewantara (Taman Siswa), Dr. Douwes Dekker atau Dr. Setiabudhi (Ksatrian Institut), Moch. Sjafei (INS Kayutanam) dsb.
2. Sekolah-sekolah yang bercorak Islam, diselenggarakan oleh Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Sumatera Tawalib, dll.
Masa Pergerakan Nasional (1908-1942) dibagi dalam 3 tahap yaitu :
1. Masa Pembentuka (1908-1920), berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Serikat Islam, Indische Partij dan lainnya.
2. Masa Radikal / Non Kooperasi (1920-1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Himpunan Indonesia (HI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).
3. Masa Kooperasi (1930-1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi.
ORGANISASI PADA ZAMAN PERGERAKAN NASIONAL
A. Budi Utomo
Dalam Kongres pertamanya (3-4 Desember 1908), Budi Utomo menegaskan tujuan perkumpulan adalah untuk kemajuan yang selaras untuk untuk negeri dan bangsa Indonesia.
B. Muhammadiyah
Berdiri pada tanggal 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Didirikan dalam rangka memberikan pendidikan bagi bangsa Indonesia sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri. Dasar pendidikannya berasaskan Islam dan berpedoman kepada Al-Qur’an dan hadist. Tujuannya untuk membentuk manusia manusia muslim berakhlak mulia, cakap, percaya diri dan berguna bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuannya Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dibawah pimpinan Majelis Pengajaran. Sampai kini Muhammadiyah terus berjuang dan berkembang dalam rangka mencapai cita-citanya.
C. Perkumpulan Putri Mardika
Didirikan pada tahun 1912, bertujuan untuk memajukan pengajaran anak-anak perempuan (Odang, Muchtar, 1976)
D. Trikoro Dharmo
Didirikan tahun 1915. Berbagai organisasi pemuda dan pelajar yang berdiri hingga terjadi Sumpah Pemuda tahun 1928, bersama – sama gerakan lainnya menyumbangkan jasa yang besar demi pendidikan nasional dan kemerdekaan Indonesia.
E. Perguruan Taman Siswa
Awalnya Ki Hajar Dewantara (1889-1959) bersama rekannya berjuang di jalur politik praktis, namun mulai tahun 1921 perjuangannya difokuskan di jalur pendidikan.
Taman Siswa didirikan di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara tujuan asas pendidikannya yang dikenal dengan azas Taman Siswa 1922, yaitu :
1. Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan wajib mengingat tertibnya kehidupan umum.
2. Pengajaran berarti mendidik untuk menjadi manusia yang merdeka batinnya, fikiran dan tenaganya.
3. Pendidikan hendaknya berasaskan kebudayaan kita sendiri.
4. Pendidikan harus diberikan kepada seluruh rakyat umum.
5. Agar bebas, merdeka lahir batin, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri.
6. Agar hidup tetap dengan berdiri sendiri, maka segala belanja harus dipikul dengan uang pendapatan sendiri
7. dengan tidak terikat lahir batin, serta kesucian hati, berminat kita berdekatan dengan sang anak.
Pada tahun 1974 asas Taman Siswa (1922) diubah menjadi “Panca Dharma” Taman Siswa, yaitu : “Kebebasan atau kemerdekaan, Kebudayaan, Kodrat Alam, kebangsaan dan kemanusian”
F. Ksatriaan Institut
Ksatrian Institut didirikan oleh Ernest Francoist Eugene douwes Dekker (Multatuli atau Setyabudhi) yang memimpin lembaga ini sejak 1922-1940. Dasar pendidikannya adalah kebangsaan Indonesia, terutama melalui sejarah kebangsaan. Tujuannya adalah menghasilkan ksatria (ridderschap) bagi Indonesia Merdeka di masa datang. (Odang Muchtar, 1976).
G. Nahdlatul Ulama (NU)
Didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926. Salah seorang ulama yang mendirikan NU adalah KH. Hasyim Asy’ari yang pernah menjadi Raisul Akbar perkumpulan ini. Sebelum menjadi Partai politik NU bertujuan memegang teguh salah satu mazhab dari empat mazhab yang ada (Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali) dan mengerjakan apa-apa yang menjadi kemaslahatan untuk agama Islam. Setelah menjadi partai Politik (Mei 1952) hingga kini NU masih terus berjuang melakukan inovasi dan menyelenggarakan Pendidikan ( I. Djumhur dan H. Danasuparta, 1976).
H. INS Kayutanam
Didirikan oleh Muhammad Syafei (1985-1969) pada tanggal 31 Oktober 1926 di kayu tanam Sumatera Barat. Perjuangan INS diarahkan demi kemerdekaan melalui pendidikan yang menekankan lulusannya agar dapat berdiri sendiri tidak tergantung pada orang lain atau jabatan yang diberikan kaum penjajah.
Tujuan pendidikannya seperti dikemukakan Umar Tirtaraharja dan La Sulo (1995) yaitu mendidik rakyat ke arah kemerdekaan, memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat, menanamkan kepercayaan diri dan berani bertanggung jawab dan mengusahakan mandiri dalam pembiayaan.
I. Sarekat Islam
Semula bernama SAREKAT DAGANG ISLAM, yg didirikan di Surakarta 1909. Oleh KH. Samanhudi dalam Bidang agama dan perdagangan. Pada tahun1911, SDI berubah jadi Sarekat Islam. Dipimpin HOS. Cokroaminoto. Tokoh lain: H. Agus Salim, Abdul Muis.
J. Indische Partij
* Didirikan RM. Suwardi Suryaningrat, dr Cipto Mangunkusumo, EFE. Douwes Dekker, 1912, Bandung.
* Suwardi Suryaningrat mengkritik perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dengan tulisan Als ik een Nederlander was [andai aku seorang Belanda]
* Kihajar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dibuang ke Belanda.
K. Perhimpunan Indonesia [tadinya bernama Indische vereeniging]
* Didirikan oleh pelajar Indonesia di negeri Belanda 1922.
* Tokoh: Moh. Hatta, Ahmad Subardjo, Natzir Pamontjak, Abdul Majid Joyodiningrat.
* PI menuntut Indonesia Merdeka 1926, anggota PI mengikuti Kongres Liga Anti Imperialisme di Brussel, Belgia. Pemimpin PI akhirnya ditangkap Belanda, tetapi kembali dibebaskan, karen tidak terbukti bersalah.
L. Indische Sociaal Democratische Vereeniging [ISDV]
*Dikembangkan Sneevliet
* ISDV melakukan penetrasi ke tubuh organisasi pergerakan, antara lain SI, melalui Semaun dan Darsono.
* SI pecah jadi 2: * SI Merah condong ke paham sosialis * SI putih mempertahankan asas dan tujuan SI
* Semaun adalah pimpinan SI Merah, setelah keluar dari SI Merah ia mendirikan PKI. PKI berkaitan dengan komitern di Moscow, Uni Soviet.
* PKI mempengaruhi petani dan rakyat kecil
* 1926, pemberontakan PKI di Madiun. Oleh Alimin dan Tan Malaka, tapi gagal.
M. PNI
* Didirikan tahun 1927, Bandung.
* Oleh pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club dengan ketua Ir. Soekarno.
* PNI membahayakan Belanda. Maka tokoh-tokoh PNI ditangkap dan dimasukkan dalam penjara Sukamiskin, Bandung. Dalam penjara Ir. Soekarno menulis pidato "Indonesia Menggugat"
* Ir. Soekarno diganti oleh Mr. Sartono. Mr. sartono kemudian membubarkan PNI dan membentuk Partindo.
* Moh. Hatta yang tidak setuju pembentukan Partindo membentuk PNI Baru
* Ir. Soekarno bergabung dengan Partindo.
* Ir. Soekarno ditangkap dan dibuang ke Endi, Flores. Moh. Hatta dan Syahrir dibuang ke Bandaneira.
PENDIDIKAN PADA ZAMAN MILITERISME JEPANG
Implikasi kekuasaan pemerintahan pendudukan militer Jepang dalam bidang Pendidikan di Indonesia yaitu: Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya. Contoh: Tiap pagi di sekolah-sekolah dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”. Upacara pagi dilanjutkan dengan pengibaran bendera Hinomaru dan membungkuk untuk menghormat Tenno Heika. Tiap hari para siswa harus mengucapkan sumpah pelajar dalam bahasa Jepang, melakukan taiso (senam), dan diwajibkan pula melakukan kinrohoshi (kerja bakti). Selain itu, dibentuk PETA sebagai program pendidikan militer bagi para pemuda; dibentuk barisan murid-murid Sekolah Rakyat (Seinen-tai); dan barisan murid-murid Sekolah Lanjutan (Gakutotai).
Pada zaman Jepang. Sekolah bersifat terbuka untuk seluruh lapisan anak Indonesia. Namun demikian, hanya satu jenis sekolah rendah diadakan bagi semua lapisan masyarakat, yaitu: Sekolah Rakyat 6 tahun (Kokumin Gakko). Sekolah Desa masih tetap ada dan namanya diganti menjadi Sekolah Pertama. Susunan jenjang sekolah menjadi:
Sistem Pendidikan menjadi lebih merakyat (populis). Sebagaimana dikemukakan di atas, pada prinsipnya terjadi perubahan bahwa sekolah menjadi terbuka bagi semua lapisan masyarakat (“Demokrasi Pendidikan”). Hapusnya sistem Konkordansi dan masuknya sistem baru yang relatif lebih praktis dan terarah bagi kebutuhan masyarakat. Selain itu bahasa Indonesia pertama kalinya dijadikan bahasa pengantar di sekolah dan dijadikan bahasa ilmiah, di samping tentunya bahasa Jepang. Sedangkan bahasa Belanda dilarang untuk digunakan (H.A.R. Tilaar, 1995).
Jepang menganggap pendidikan penting untuk rakyat Indonesia guna mendukung maksud dan tujuannya tesebut. Murid-murid hanya mendapat pengetahuan yang sedikit sekali, hampir sepanjang hari hanya diisi dengan kegiatan pelatihan perang atau bekerja. Kegiatan-kegiatan sekolah antara lain :
a. Mengumpulkan batu,pasir untuk kepentingan perang.
b. Membersihkan bengkel-bengkel, asrama-asrama militer.
c. Menanam ubi-ubian, sayur-sayurran, di pekarangan sekolah untuk persediaan makanan.
d. Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.
Ada tiga macam sekolah guru di zaman Jepang, yaitu:
1. Sekolah guru 2 tahun = Syoto Sihan Gakko,
2. Sekolah guru menengah 4 tahun = Guto Sihan Gakko, dan
3. Sekolah guru tinggi 6 tahun = Koto Sihan Gakko
Sekolah-sekolah yang ada pada zaman Jepang :
1. jenjang sekolah dasar menggunakan istilah Sekolah Rakyat (SR) atau Kokumin Gakko. Lama pendidikan 6 tahun terbuka unruk semua golongan penduduk.
2. Jenjang sekolah menengah pertama (SMP) atau Shot chu Gakko. Lama pendidikan 3 tahun. Terbuka untuk yang memiliki ijazah SR.
3. Jenjang sekolah menengah tinggi (SMT) atau Koto Chu Gakko. Lama jenjang pendidikan 3 tahun.
4. Jenjang perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut adalah :
a. Sokolah tinggi kedokteran (Ika Dai Gakko) di Jakarta.
b. Sekolah teknik tinggi (Kogyo Dai Gakko ) di Bandung
c. Sekolah tinggi Pamong Praja (Kenkoku Gakuin)
d. Sekolah tinggi Kedokteran Hewan di Bogor
5. Adapun sekolah kejuruan menengah adalah :
a. Sekolah pertukangan atau Kogyo Gakko
b. Sekolah teknik menengah atau Kogyo Semino gakko
c. Sekolah pelayaran menengah dan pelayaran tinggi
d. Sekolah pertanian di Tasikmalaya di Malang
Pelajaran-pelajaran yang diberikan meliputi Sejarah Ilmu Bumi, Bahasa Indonesia (Melayu), Adat Istiadat, Bahasa Jepang, Ideologi Jepang (Ideologi Hakko Ichi) dan Kebudayaan Jepang.
PERUBAHAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN JEPANG
:
1.Dihapusnya dualisme pengejaran: yaitu jenis pengajaran pada zaman pemerintahan belanda. Sehingga hanya ada satu sekolah rendah
2. Bahasa indonesia dijadikan bahasa resmi dan bahasa pengantar bagi semua jenis Sekolah. bahasa jepang dijadikan mata pelajaran wajib dan adat kebiasaan Jepang harus ditaati.
Isi Pengajaran Pendidikan Zaman Jepang:
1. Pengajaran dipergunakan sebagai alat propaganda dan juga untuk kepentingan perang. Murid-murid seringkali diharuskan kerja bakti, misalnya : membersihkan bengkel, asrama, membuat bahan-bahan untuk kepentingan pertahanan, dan sebagainya.
2. Untuk melipatgandakan hasil bumi, murid-murid diharuskan membuat pupuk kompos atau beramai-ramai membasmi hama tikus di sawah. Sebagian waktu belajar digunakan untuk menanami halaman sekolah dan pinggir-pinggir jalan dengan tanaman jeruk.
3. Pelatihan-pelatihan jasmani berupa pelatihan kemiliteran dan mengisi aktivitas-aktivitas murid-murid sehari-hari. Agar berjalan lancar, pada tiap-tiap sekolah dibentuk barisan-barisan murid. Barisan murid-murid SD disebut seinen-tai, sedangkan barisan murid-murid sekolah lanjutan disebut Gakutotai.
4. Untuk menanamkan semangat Jepang , tiap-tiap hari murid harus mengucapkan sumpah belajar dalam bahasa Jepang. Mereka harus mengusai bahasa dan nyanyian Jepang. Tiap pagi diadakan upacara, dengan menyembah bendera Jepang dan menghormati istana Tokyo.
5. Agar bahasa Jepang lebih populer , diadakan ujian bahasa Jepang untuk para guru dan pegawai-pegawai, yang dibagi atas lima tingkat. Pemilik ijazah ini mendapat tambahan upah.
6. Buku-buku dalam bahasa asing yang diperlukan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Dengan mengabaikan hak cipta internasional karena dalam suasana perang.
7. Kreativitas guru-guru dan berkembang dalam memenuhi kekurangan buku pelajaran dengan menyadur atau mengarang sendiri, termasuk kreativitas untuk menciptakan alat peraga dan model dengan bahan dan alat yang tersedia.
8. Seni bela diri dan pelatihan perang-perang sebagai kegiatan kulikuler di sekolah telah membangkitkan keberanian pada para pemuda yang ternyata sangat berguna dalam perang kemerdekaan yang terjadi kemudian.
9. Diskriminasi menurut golongan penduduk, keturunan dan agama ditiadakan, sehingga semua lapisan masyarakat mendapat kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan.
10. Sekolah-sekolah diseragamkan dan sekolah-sekolah swasta dinegerikan serta berkembang dibawah pengaturan kantor pengajaran Bunkyo Kyoku.
11. Karena pengaruh inktrinasi yang ketat untuk menjepangkan rakyat Indonesia, justru perasaan rindu kepada kebudayaan sendiri dan kecerdasan nasional berkembang dan bergejolak secara biasa.
12. Bangsa Indonesia dididik dan dilatih untuk memegang jabatan walaupun di bawah pengawasan orang-orang Jepang.
Kebijakan dalam mendekati Islam Indonesia dalam pendidikan
a. Pondok pesantren yang besar-besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang
b. Sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran-ajaran agama, terutama agama Islam.
c. Pemerintah Jepang juga mengizinkan berdirinya sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H.Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir dan Bung Hatta.
d. Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah. Pada masa penduduk Jepang, ada satu hal istimewa dalam dunia pendidikan sebagaimana telah dikemukakan, yaitu sekolah-sekolah telah diseragamkan dan dinegerikan meskipun sekolah-sekolah swasta lain, seperti Muhammadiyah, Taman siswa dan lain-lain didizinkan terus berkembang dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh penduduk Jepang.
SEGI POSITIF PENDIDIKAN PENJAJAHAN JEPANG
1. Jepang memerikan pendidikan militer kepada para pemuda Indonesia, dengan maksud memperkuat pertahanan mereka. Namun, pendidikan ini secara tidak langsung memberikan bekal kepada para pejuang bangsa dalam bidang keprajuritan untuk mewujudkan cita-cita merdeka.
2. Menghapus dualisme pendidikan penjajahan belanda dan nenggantinya dengan dengan pendidikan yang sama bagi setiap orang.
3. Pemakaian bahasa Indonesia secara luas diinstruksikan oleh penjajah Jepang. Bahasa Indonesia mulai dipakai di lembaga-lembaga pendidikan, di kantor-kantor, dan dalam pergaulan sehari-hari.
ORGANISASI POLITIK BENTUKAN JEPANG
a. Gerakan Tiga A
Dengan nama Gerakan Tiga A tersebut merupakan singkatan dari semboyan propaganda Jepang, yaitu Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon PemimpinAsia..
b. Poetera
Pada tanggal 1 Maret 1942, ia mengumumkan lahirnya gerakan baru yang bernama Poesat Tenaga Rakyat yang disingkat Poetera. Bagi Jepang, tujuan pembentukan Poetera adalah untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia dalam rangka membantu usaha perangnya.
c. Jawa Hokokai
Tahun 1944, Panglima Tentara Keenam belas, Jenderal Kumakici Harada, menyatakan berdirinya organisasi Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa).. Kegiatan-kegiatan Jawa Hokokai sebagaimana digariskan dalam peraturan dasarnya adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan segala sesuatu dengan nyata dan ikhlas untuk menyumbangkan segenap tenaga kepada pemerintah Jepang
2. Memimpin rakyat untuk menyumbangkan segenap tenaga berdasarkan semanga tpersaudaraan antar segala bangsa
3. Memperkokoh pembelaan tanah air.
ORGANISASI MILITER BENTUKAN JEPANG
a) Pada tanggal 9 Maret 1943 didirikan gerakan Seinendan (Barisan Pemuda). Pelantikannya dilakukan 29 April 1943, dengan anggota ± 3500 pemuda. Tujuannya untuk melatih dan mendidik para pemuda, agar mampu menjaga dan mempertahankan tanah air dengan kekuatan sendiri. Persyaratan untuk menjadi Seinendan adalah: pemuda berusia 14 - 23 tahun.
b) Pembentukan Barisan Pelajar (Gokutai) untuk pelajar SD - SLTA
c) Fujinkai (Barisan Wanita). Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas para wanita berusia 15 tahun ke atas
d) Pembentukan Barisan Pembantu Polisi (Keibodan), dengan syarat yang lebih ringan dari Seinendan, usia yang diprioritaskan ± 23 - 25 tahun. Untuk Keibodan ini ada keharusan untuk setiap desa (Ku) yang memiliki pemuda dengan usia tersebut dan berbadan sehat wajib menjadi Keibodan. Sistem pengawasan Keibodan ini diserahkan pada Polisi Jepang.
e) Pembentukan Barisan Pembantu Prajurit Jepang (Heiho) April 1943. Anggota Heiho adalah pemuda berusia ± 18 - 25 tahun, dengan pendidikan terendah SD. Mereka akan ditempatkan langsung pada angkatan perang Jepang (AL - AD). Disinilah para pemuda kita mendapat tempat latihan militer yang sesungguhnya dengan kemampuan yang tinggi.
f) Jibakutai (Barisan Berani Mati) Jibakutai dibentuk pada tanggal 8 Desember 1944. Barisan ini rupanya mendapatkan inspirasi dari pilot Kamikaze yang sanggup mengorbankan nyawanya dengan jalan menabrakkan pesawatnya kepada kapal perang musuh.
g) Pembentukan Barisan Semi Militer khusus direkrut dari golongan Islam dengan nama : Hizbullah (Tentara Allah) diantaranya tokoh Otto Iskandinata dan Dr. Buntaran Martoatmojo
h) Pembentukan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) tanggal 3 Oktober 1943 dilakukan atas permohonan Gatot Mangkuprojo kepada Panglima Tertinggi Jepang Letjen Kumakichi Harada tanggal 7 September 1943.
i) Beberapa hari sesudah janji kemerdekaan (9 September 1944) dibentukBenteng Perjuangan Jawa (Jawa Sentotai) ini merupakan badan perjuangan dalam Jawa Hokokai, bahkan organisasi lainpun dibentuk seperti Barisan Pelopor ( Suisyintai) dipimpin langsung oleh Ir. Soekarno, Sudiro, RP. Suroso, Otto Iskandardinata dan Dr. Buntaran Martoatmojo.
Adapun beberapa kebijakan Jepang dalam bidang kependidikan :
Mengambil tenaga pribumi dengan merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan. Upaya ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem Nipponize (Jepangisasi)yang mereka jalankan di Manchuria dan China. Karena itulah, di Indonesia mereka menggunakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal. Sekalipun menjelang akhir masa pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang menerapkan sistem Nipponize kembali, yakni dengan dikerahkannya para Sendenbu(propagator Jepang) untuk menghancurkan ideologi Indonesia Ray.
Melatih guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain: (1) Indoktrinasi ideologi Hakko Ichiu, yaitu “Kemakmuran Bersama Asia Raya” dengan semboyan Asia untuk Asia; (2) Nippon Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang; (3) Bahasa, sejarah dan adat-istiadat Jepang; (4) Ilmu bumi dengan perspektif geopolitis; serta (5) Olahraga dan nyanyian Jepang.
Jepang menginstruksikan ditutupnya sekolah-sekolah berbahasa Belanda, pelarangan materi tentang Belanda dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, sehingga memaksa peranakan China kembali ke sekolah-sekolah berbahasa Mandarin di bawah koordinasi Hua-Chino Tsung Hui, yang berimplikasi pada adanya prosesresinification(penyadaran dan penegasan identitas sebagai keturunan bangsa China). Kondisi ini antara lain memaksa para guru untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa asing kedalam Bahasa Indonesia untuk kepentingan proses pembelajaran.
Pendidikan Guru Indonesia Dalam Zaman Jepang
Setelah Belanda menyerah kepada Jepang. Pemerintahan Militer Jepang memutuskan untuk .memulihkan kehidupan sehari hari secepat mungkin, keputusan lni dilaksanakan antara lain dengan membuka .kembali herbagai pelayanan umum, seperti hubungan kereta api antar-kota, pelayanan pos, telepon, dan telegram, dan‘penyelenggaraan pendidikan. Ini dilakukan dengan membuka kembali sekolah-sekolah yang ditutup pada waktu tentara Jepang mulai menduduki daerah daerah Indonesia, Sekolah-sekolah Pemerintah dibuka secara otomatis, tanpa harus melalui prosedur-prosedur birokrasi yang berliku-liku. Tetapi untuk sekolah-sekolah swasta diperlukan izin dari Pemerintahan Militer Jepang. Ada perguruan swasta yang boleh dibuka kembali, tetapi ada pula yang tidak boleh dibuka kembali.
Pembukaan kembali sekolah-sekolah di Jawa merupakan bagian dari program jangka panjang Pemerintahan Militer Jepang untuk menguasai Indonesia. Ada dua bidang kehidupan di Indonesia yang ditetapkan oleh Pemerintah Militer Jepang untuk digarap dengan skema jangka panjang, yaitu bidang budaya dan bidang pendidikan. Di samping program-program jangka panjang, Pemerintahan Militer Jepang juga telah mempersiapkan serangkaian program jangka pendek. Program-program jangka pendek ini mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
Merebut simpati penduduk, terutama kaum cendekiawan;
Merebut simpati dari umat Islam Indonesia;
Membentuk jaringan pengamanan negara sampai ke tingkat RT;
Mempersiapkan sistem pertahanan untuk membantu Tentara Jepang bila tentara sekutu sampai menyerang Indonesia;
Obilisasi rakyat untuk melaksanakan proyek-proyek militer Jepang (proyek kerja paksa atau roomusha).
Sekolah-sekolah menjadi tempat indoktrinasi Jepang. Jepang menilai bahwa pendidikan membentuk kader-kader untuk memelopori dan melaksanakan konsepsi ‘Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya’.
Tak bisa kita pungkiri, kedatangan Jepang ke Indonesia memberikan banyak pengaruh bagi negara kita. Ingat kemerdekaan ? Mengapa bisa ada kemerdekaan ? Karena ada penjajahan. Jika tidak ada momen penjajahan, tidak ada momen kemerdekaan. 'Mau merdeka dari apa ?' bahasa singkatnya.
Mengapa kita bisa dijajah ? Karena indonesia memiliki banyak kekayaan alam.
KESIMPULAN
Dari rangkaian sejarah yang menjadi landasan historis pendidikan di Indonesia, kita dapat menyimpulkan bahwa masa-masa tersebut memiliki wawasan yang tidak jauh berbeda satu dengan yang lain. Mereka sama-sama menginginkan pendidikan yang bertujuan mengembangkan individu peserta didik. Dalam arti memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi mereka secara alami, dan demi kemajuan yang lebih baik.
Dengan demikian kami berharap hasil pendidikan dapat berupa ilmuwan, innovator, dan orang-orang perpendidikan lainnya yang juga peduli terhadap lingkungan serta mampu untuk memperbaikinya, dan meningkatkan tingkat peradaban manusia. Bukan justru sebaliknya.
Hal ini dikarenakan pendidikan selalu dinamis mencari yang baru, memperbaiki dan memajukan diri, agar tidak ketinggalan zaman, dan selalu berusaha menyongsong zaman yang akan datang.
SARAN
`Sebagai calon pendidik atau orang yang akan berkecimpung dalam dunia pendidikan, sudah sepatutnya kita mengetahui dan memahami sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, dalam hal ini Landasan Historis Pendidikan. Dengan mematuhi historis tersebut, dimaksudkan agar calon pendidik beserta para instrument pendidikan lainnya, dapat mengindari kesalahan-kesalahan pada pendidikan yang terdahulu, sehingga tidak terulang kembali pada pendidikan yang akan mendatang. Sebaliknya, yakni dapat mempertahankan bahkan meningkatkan nilai-nilai pendidikan yang baik dan bermutu demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Dengan mewariskan, menggunakan karya dan pengalaman masa lampau, pendidikan menjadi pengawal, perantara, dan juga sebagi pemelihara peradaban yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
http://makalahpendidikanagamaislamtarbiyah.blogspot.com/2016/11/makalah-landasan-historis-pendidikan.html
http://akhmad-sugianto.blogspot.com/2013/09/landasan-historis-pendidikan.html
https://dyahrochmawati08.wordpress.com/2008/11/30/landasan-historis-pendidikan-di-indonesia/
http://mustakimjm.blogspot.com
Senin, 22 Oktober 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
UAS IMALT (Farah Dina)
Name: Farah Dina NIM: 1888203046 Class: 5.1 UAS IMALT Give your idea/opini for the following point : 1. What is media in teaching? How ma...
-
Name: Farah Dina NIM: 1888203046 Class: 5.1 UAS IMALT Give your idea/opini for the following point : 1. What is media in teaching? How ma...
-
Name: Farah Dina Class: 5.1 MID SEMESTER TEST CROSS CULTURAL UNDERSTANDING SEMESTER V Please answer the questions below br...
-
Assalamualaikum, annyeong teman teman selamat datang di blog saya kembali. Hari ini saya akan menjelaskan tentang syntax. Tapi dengan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar